Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

UNCERTAINTY REDUCTION THEORY (TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN)

Tujuan penyusunan teori pengurangan ketidakpastian  ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian di antara orang asing yang terlibat dalam pembicaraan satu sama lain untuk pertama kali. Saat pertama kali bertemu, orang bertindak sebagai peneliti yang naïf, yang termotivasi untuk memprediksi maupun untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam perjumpaan – perjumpaan awal.

Teori ini menyebutkan bahwa ada dua tipe ketidakpastian dari perjumpaan awal, yaitu :

1. Ketidakpastian Kognitif (Cognitive uncertainty) merupakan tingkatan ketidakpastian yang diasosiasikan dengan keyakinan dan sikap.

2. Ketidakpastian Perilaku (Behavioral uncertainty), dilain pihak berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat diprediksikan dalam situasi yang diberikan.

Contoh kasus :

Suatu hari Christian menunggu waktu kuliah di kampus. Di sebelahnya duduk seorang wanita yang tidak dikenalnya, yang merupakan mahasiswi kampus Undana juga. Setelah 5 menit berlalu, mereka merasa saling tidak nyaman dengan suasana tegang karena mereka tidak saling mengenal dan terus berdiam diri. Ada rasa ketidakpastian apakah orang di sebelahnya merasa tidak nyaman atau berpikir bahwa orang di sebelahnya itu sombong karena tidak menyapa dan tidak mengajak berkenalan. Akhirnya Christian menyapa wanita itu dan mengajaknya berkenalan, belum lama mereka mengobrol akhirnya mereka masuk ke kelas masing – masing. Christian mengalami ketidakpastian kembali dengan berpikir, apakah wanita itu menganggapnya “sok kenal”? tapi Christian memiliki keinginan untuk mengurangi ketidakpastian tersebut dengan mengajak wnaita itu berkenalan, oleh karena itu dia mungkin lebih mengerti lebih baik tentang kemungkinan tingkah laku dari orang itu.

ASUMSI UNCERTAINTY REDUCTION THEORY (TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN)

Teori ini meliputi tujuh (7) asumsi :

1. Orang mengalami ketidakpastian dalam latar interpersonal.

Karena terdapat harapan yang berbeda – beda mengenai kejadian interpersonal , maka orang akan merasa tidak pasti atau bahkan cemas untuk bertemu dengan orang lain.

2. Ketidakpastian adalah keadaan yang tidak mengenakkan, menimbulkan stress secara kognitif.

Berada dalam ketidakpastian membutuhkan energy emosional dan psikologis yang banyak. Orang-orang yang dalam kerja barunya mengalami stress dengan sekitarnya.

3. Ketika orang asing bertemu, perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka atau meningkatkan prediktabilitas.

Meningkatkan prediktabilitas dengan mencari informasi yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan.

4. Komunikasi interpersonal adalah sebuah proses perkembangan yang terjadi melalui tahapan – tahapan.

Fase awal (awal interaksi di anntara orang asing) Fase personal (tahapan ketika orng mulai berkomunikasi dengan lebih spontan dan membuka banyak informasi personal) Fase Akhir (memutuskan apakah hubungan tersebut akan diteruskan atau dihentikan).

5. Komunikasi interpersonal adalah alat yang utama untuk mengurangi ketidakpastian.

Komunikasi interpesornal mensyartakan beberapa kondisi, yaitu kemampuan untuk mendengar, tanda respon non-verbal, dan bahasa yang sama. Tantangan seperti ini mempengaruhi proses pengurangan ketidakpastian dan pengembangan hubungan.

6. Kuantitas dan sifat informasi yang dibagi oleh orang berubah seiring berjalannya waktu.

Komunikasi interpersonal adalah perkembangan, yang diawali oleh interaksi awal sebagai elemen kunci keberhasilannya.

7. Sangat mungkin menduga perilaku orang dengan menggunakan cara seperti hukum.

Perilaku manusia diatur oleh prinsip – prinsip umum yang berfungsi dengan cara seperti hukum.

AKSIOMA UNCERTAINTY REDUCTION THEORY (TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN)

Uncertanty Reduction Theory mengemukakan adanya tujuh aksioma (kebenaran yang ditarik dari penelitian sebelumnya dan akal sehat) :

1. Dengan adanya tingkat ketidakpastian yang tinggi pada permulaan fase awal, ketika jumlah komunikasi verbal antara dua orang asing meningkat, tingkat ketidakpastian untuk tiap partisipan dalam suatu hubungan akan menurun. Jika ketidakpastian menurun, jumlah komunikasi verbal akan meningkat. Hal ini menyatakan adanya kebalikan atau hubungan negative antara ketidakpastian dan komunikasi verbal.

2. Ketika ekspresi afiliatif nonverbal meningkat, tingkat ketidakpastian menurun dalam situasi interaksi awal. Selain itu, penurunan tingkat ketidakpastian akan menyebabkan peningkatan keekspresifan afiliatif nonverbal. Hal ini merupakan salah satu hubungan yang bersifat negative.

3. Tingkat ketidakpastian yang tinggi menyebabkan menungkatnya perilaku pencarian infromasi. Ketika tingkat ketidakpastian menurun, perilaku pencarian informasi juga menurun. Aksioma ini menunjukan hubungan yang positif antara dua konsep tersebut.

4. Tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam sebuah hubungan menyebabkan penurunan tingkat keintiman dari isi komunikasi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat keintiman yang tinggi. Aksioma ni memeprlihatkan hubungan yang negative antara ketidakpastian dan tingkat keintiman.

5. Ketidkapastian yang tingkat tinggi menghasilkan tingkat resiprositas yang tinggi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkay resiprositas yang rendah pula. Hubungan yang positif terjadi disini.

6. Kemiripan di antara orang akan mengurangi ketidakpastian, sementara ketidakmiripan akan meningkatkan ketidakpastian. Aksioma ini menyakan sebuah hubungan yang negative.

7. Peningkatan ketidakpastian akan menghasilkan penurunan dalam kesukaan; penurunan dalam ketidakpastian menghasilkan peningkatan dalam kesukaan. Ini merupakan hubungan negative.

Desember 23, 2009 Posted by | Komunikasi Antar Pribadi | 2 Komentar

Teori Pelanggaran Harapan ( Expectancy Violation Theory)

LATAR BELAKANG TEORI

Judee Burgoon ( 1978)  pertamakali merancang teori pelanggaran pengharapan  ( Expectancy Violation Theory) untuk menjelaskan konsekwensi dari perubahan jarak dan ruang pribadi selama interaksi komunikasi antar pribadi.  Theory ini adalah salah satu teori pertama tentang komunikasi  yang dikembangkan oleh sarjana komunikasi.  Theory expct violation secara terus menerus ditinjau kembali dan diperluas; hari ini teori digunakan untuk menjelaskan suatu cakupan luas dari hasil komunikasi yang dihubungkan dengan pelanggaran harapan tentang perilaku komunikasi . (Infante, 2003: 177)

Studi tentang penggunaan ruang dan jarak dalam berkomunikasi atau lebih populer disebut Proksemik sebenarnya telah dikembangkan oleh Edward T. Hall sejak tahun 1960-an. Dalam teorinya, Hall membedakan empat macam jarak yang menurutnya mengambarkan ragam jarak komunikasi yang diperbolehkan dalam kultur Amerika yakni jarak intim (0 – 18 inci), jarak pribadi (18 inci – 4 kaki), jarak sosial (4 -10 kaki), dan jarak publik (lebih dari 10 kaki).

Terkait dengan keempat macam jarak tersebut kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan seperti berikut; Apa yang akan terjadi ketika seseorang menunjukkan tingkah laku  yang mengejutkan atau diluardugaan? atau bagaimana persepsi seseorang terhadap tingkah laku  yang mengejutkan tersebut bila dikaitkan dengan dayatarik antarpribadi?. Berawal dari pertanyaan semacam itulah kemudian Burgoon meneliti perilaku komunikasi  masyarakat Amerika yang menghantarkannya pada penemuan sebuah teori yang kemudian dikenal sebagai  Expectancy Violation Theory.

ESENSI TEORI

Teori ini bertolak dari keyakinan bahwa kita memiliki harapan­-harapan tertentu tentang bagaimana orang lain sepatutnya berperilaku atau bertindak ketika berinteraksi dengan kita. Kepatutan tindakan tersebut pada prinsipnya diukur berdasarkan norma-norma sosial yang berlaku atau berdasarkan kerangka pengalaman kita sebelumnya (Field of Experience). Terpenuhi tidaknya ekspektasi ini akan mempengaruhi bukan saja cara interaksi kita dengan mereka tapi juga bagaimana penilaian kita terhadap mereka serta bagaimana kelanjutan hubungan kita dengan mereka

Bertolak dari pernyataan diatas kemudian teori ini berasumsi bahwa setiap orang memiliki harapan-harapan tertentu pada perilaku  orang lain. Jika harapan tersebut dilanggar maka orang akan bereaksi dengan memberikan penilaian positif atau negatif sesuai karakteristik pelaku pelanggaran tersebut.

Sebuah contoh kecil mungkin akan memperjelas pemahaman anda tentang asumsi teori ini. Anggaplah anda seorang gadis jujur yang sedang ditaksir dua orang pemuda.. Anda tidak bingung karena jelas anda hanya menyukai salah seorang diantara mereka. Apa yang terjadi ketika pemuda yang anda senangi tersebut menemui anda dan berdiri terlalu dekat sehingga melanggar jarak komunikasi antarpribadi yang diterima secara normatif? Besar kemungkinan anda akan menilainya secara positif. Itulah tanda perhatian yang tulus atau itulah perilaku pria sejati ujar anda. Namun bagaimana halnya bila yang melakukan tindakan tersebut pria yang bukan anda senangi? Anda akan bereaksi secara negatif. Anda akan mengatakan bahwa orang itu tidak tahu sopan santun  atau mungkin dalam hati anda akan berujar “Dasar, kurang ajar. Tidak tahu diri!”

Jadi kita menilai suatu pelanggaran didasarkan pada bagaimana perasaan kita pada orang tersebut. Bila kita menyukai orang tersebut maka besar kemungkinan kita akan menerima pelanggaran tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan menilainya secara positif. Sebaliknya bila sumber pelanggaran dipersepsi tidak menarik atau kita tidak menyukainya maka kita akan menilai pelanggaran tersebut sebagai sesuatu yang negatif.

Menurut perspektif teori ini, beberapa faktor saling berhubungan untuk mempengaruhi bagaimana kita bereaksi terhadap pelanggaran dari jenis perilaku  yang kita harapkan untuk menghadapi situasi tertentu . Ada tiga konstruk pokok dari teori ini yakni; Harapan (Expectancies), Valensi Pelanggaran  (Violations Valence), dan Valensi Ganjaran Komunikator (Communicator Reward Valence) (Griffin, 2004: 88).

Expectancies (Harapan)

Faktor NEV Theory yang pertama mempertimbangkan harapan kita. Melalui norma-norma sosial kita membentuk ” harapan” tentang bagaimana orang lain (perlu) bertindak secara  (dan secara lisan) ketika kita saling berinteraksi dengan mereka. Harapan merujuk pada pola-pola komunikasi yang diantisipasi oleh individu berdasarkan pijakan normatif masing-masing individu atau pijakan kelompok. Jika perilaku orang lain menyimpang dari apa yang kita harapkan secara khas, maka suatu pelanggaran pengharapan telah terjadi. Apapun “yang diluar kebiasaan” menyebabkan kita untuk mengambil reaksi khusus (menyangkut) perilaku itu. Sebagai contoh, kita akan berekasi ( dan mungkin dengan sangat gelisah/tidak nyaman) jika seorang asing meminta berdiri sangat dekat dengan kita. Dengan cara yang sama, kita akan bereaksi lain jika orang  yang penting dengan kita berdiri sangat jauh sekali dari kita pada suatu pesta. Dengan kata lain kita memiliki harapan terhadap tingkah laku  apa yang pantas dilakukan orang lain terhadap diri kita. Jika perilaku  seseorang, ketika berkomunikasi dengan kita, sesuai atau kurang lebih sama dengan pengharapan kita, maka kita akan merasa nyaman baik secara fisik maupun psikologis. Persoalannya adalah tidak selamanya tingkah laku orang lain sama dengan apa yang kita harapkan. Bila hal ini terjadi, maka akan terjadi gangguan psikologis maupun kognitif dalam diri kita baik yang sifatnya positif ataupun negatif. Suatu pelanggaran dari harapan  kita dapat mengganggu ketenangan; hal tersebut dapat menyebabkan bangkitnya suasana emosional. (Infante, 2003: 177)

Kita mempelajari harapan dari sejumlah sumber ( Floyd, Ramirez;& Burgoon, 1999). Pertama, budaya di mana kita tinggal membentuk harapan kita tentang beragam jenis perilaku komunikasi, termasuk komunikasi . Pada budaya yang menganut “contact culture” kontak mata lebih banyak terjadi, sentuhan lebih sering, dan zone jarak pribadi jauh lebih kecil dibanding pada budaya yang menganut “noncontact culture”. Konteks di mana interaksi berlangsung juga berdampak pada harapan tentang perilaku orang lain. Sebagian besar dari kontak mata dari orang lain secara atraktif mungkin dilihat sebagai undangan jika konteks dari interaksi berlangsung dalam pertemuan klub sosial, sedangkan perilaku  yang sama mungkin dilihat sebagai ancaman jika perilaku tersebut diperlihatkan pada penumpang yang berjumlah sedikit di dalam kereta bawah tanah yang datang terlambat pada malam hari. Tergantung pada konteks, “belaian boleh menyampaikan simpati, kenyamanan, kekuasaan, kasih sayang, atraksi, atau … napsu” ( Burgoon, Coker,& Coker, 1986, p. 497). Makna tergantung pada situasi dan hubungan diantara individu-individu. Pengalaman pribadi kita juga mempengaruhi harapan. Kondisi interaksi kita yang berulang akan mengharapkan terjadinya perilaku tertentu. Jika kawan sekamar kita yang biasanya periang tiba-tiba berhenti tersenyum ketika kita masuk kamar, kita menghadapi suatu situasi yang jelas berbeda dengan harapan. NEV Theory menyatakan bahwa harapan “meliputi penilaian tentang perilaku yang mungkin, layak, sesuai, dan khas untuk suasana tertentu, sesuai tujuan, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari  partisipan”( (Bur­goon & Hale, 1988, hal. 60). (Infante, 2003: 178)

Violation Valence (Valensi Pelanggaran)

Ketika harapan  kita dilanggar oleh orang lain, kita kemudian melakukan penafsiran sekaligus menilai apakah pelanggaran tersebut positif atau negatif. Penafsiran dan evaluasi kita tentang perilaku pelanggaran harapan  yang biasa disebut Violation Valenceatau Valensi Pelanggaran adalah elemen kedua yang penting dari teori NEV. NEV Theory berasumsi bahwa perilaku  adalah penuh arti dan kita mempunyai sikap tentang perilaku  yang diharapkan. Kita bersepakat tentang  beberapa hal dan tidak setuju tentang beberapa hal yang lain. Valensi adalah istilah yang digunakan untuk menguraikan evaluasi tentang perilaku. Perilaku tertentu jelas-jelas divalensi secara negatif, seperti perlakuan tidak sopan atau isyarat yang menghina (seseorang, “menghempaskan burung kamu atau memelototkankan matanya pada kamu). Perilaku lain divalensi secara positif (seseorang memberi isyarat “v” untuk kemenangan  karena perbuatan tertentu atau  menga-cungkan ibu jari untuk jaket penghangat barumu).  Sebagai contoh, bayangkan kamu berada di suatu pesta dan seorang asing yang baru diperkenalkan tanpa diduga-duga menyentuh tanganmu. Karena kamu baru saja berjumpa orang itu, perilaku tersebut bisa jadi mengacaukan. Kamu mungkin menginterpretasikan perilaku tersebut sebagai kasih sayang, suatu undangan untuk menjadi teman, atau sebagai suatu isyarat kekuasaan.  Theory pelanggaran harapan berargumen bahwa jika perilaku yang diberikan lebih positif dibanding dengan apa yang diharapkan, hasilnya adalah pelanggaran harapan yang positif. Dan sebaliknya, jika perilaku yang diberikan lebih negatif dibanding dengan apa yang diharapkan, menghasilkan suatu pelanggaran harapan yang negatif. (Infante, 2003: 178). Ini disebut juga Violation Valence atau Valensi Pelanggaran. Violation Valence dikatakan positif bila kita menyukai tindakan pelanggaran tersebut, dan sebaliknya dikatakan negatif jika kita tidak menyukai pelanggaran tersebut

Communicator Reward Valence (Valensi Ganjaran Komunikator)

Valensi Ganjaran Komunikator adalah unsur yang ketiga yang mempengaruhi reaksi kita. Sifat alami hubungan antara komunikator mempengaruhi bagaimana mereka (terutama penerima) merasakan tentang pelanggaran harapan. Jika kita “menyukai” sumber dari pelanggaran ( atau jika pelanggar adalah seseorang yang memiliki status yang tinggi, kredibilitas yang tinggi, atau secara fisik menarik), kita boleh menghargai perlakuan yang unik tersebut. Bagaimanapun, jika kita ” tidak menyukai” sumber, kita lebih sedikit berkeinginan memaklumi perilaku  yang tidak menepati norma-norma sosial; kita memandang pelanggaran secara negatif. (Infante, 2003: 178)

Dengan kata lain jika kita menyukai orang yang melanggar tersebut, kita tidak akan terfokus pada pelanggaran yang dibuatnya, justru kita cenderung berharap agar orang tersebut tidak mematuhi norma-norma yang berlaku. Sebaliknya bila orang yang melanggar tersebut adalah orang yang tidak kita sukai, maka kita akan terfokus pada pelanggaran atau kesalahannya dan berharap orang tersebut mematuhi atau tidak melanggar norma-norma sosial yang berlaku.

Valensi Ganjaran Komunikator adalah keseluruhan sifat-sifat positif maupun negatif yang dimiliki oleh komunikator termasuk kemampuan komunikator dalam memberikan keuntungan/ganjaran atau kerugian kepada kita di masa datang. Status sosial, jabatan, keahlian tertentu atau penampilan fisik yang menarik dari komunikator dianggap sebagai sumber ganjaran yang potensial. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini dalam istilah Burgoon disebut High-Reward Person. Sementara kebodohan atau kejelekan rupa misalnya, dinilai sebagai yang sumber tidak potensial dalam memberikan keuntungan berkomunikasi dan mereka yang berada dalam posisi ini disebut dengan istilah Low-Reward Person. Dalam konstruk Communicator Reward Valence juga tercakup hasil dari kalkulasi atau udit mental tentang apa keuntungan atau kerugian dari suatu transaksi komunikasi dengan orang lain.

Theory pelnggaran harapan mengusulkan sebagai fakta bahwa hal tersebut tidak hanya sesuatu pelanggaran perilaku  dan reaksi kepada nya. Sebagai ganti(nya), Theory ini berargumen bahwa siapa yang melakukan berbagai hal pelanggaran masi harus dikelompokkan dalam rangka menentukan apakah suatu pelanggaran akan dilihat sebagai negatif atau positif. Tidak sama dengan model interaksi  lainnya seperti teori penimbulan pertentangan/discrepancy arousal theory ( lihat Lepoire & Burgoon, 1994), expect violation Theory meramalkan bahkan suatu “pelanggaran yang ekstrim dari suatu harapan” boleh jadi dipandang secara positif jika itu dilakukan oleh komunikator yang mendapat penghargaan tinggi (Burgoon & Hale, 1988, hal.63). (Infante, 2003: 179)

Di samping tiga konstruk pokok sebagaimana diuraikan di atas, Burgoon juga mengajukan sebelas proposisi yang menjadi landasan teoritisnya.(Burgooon, 1978: 129-142).Proposisi-proposisi ini tidak mengalami perubahan sejak penabalan teori ini pada tahun 1978. Berikut adalah kesebelas proposisi tersebut:

  1. Manusia memiliki dua kebutuhan yang saling berlomba untuk dipenuhi yakni kebutuhan untuk berkumpul atau bersama sama dengan orang lain dan kebutuhan untuk menyendiri (personal space). Kedua kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi secara bersamaan.
  2. Hasrat untuk bergabung dengan orang lain digerakkan atau diperbesar oleh hadirnya ganjaran dalam konteks komunikasi. Ganjaran tersebut dapat bersifat biologis maupun sosial.
  3. Semakin tinggi derajat suatu situasi atau seseorang dianggap menguntungkan (rewarding), semakin besar kecenderungan orang untuk mendekati seseorang atau situasi tersebut. Sebaliknya semakin tinggi sesorang atau suatu situasi dipandang tidak memberikan manfaat semakin besar kecenderungan orang untuk menghindari seseorang atau situasi tersebut.
  4. Manusia memiki kemampuan untuk merasakan gradasi dalam jarak Pola interaksi manusia, termasuk ruang pribadi atau pola jarak, bersifat normatif
  5. Manusia dapat mengembangkan suatu pola tingkah laku yang berbeda dari norma-norma social.
  6. Dalam konteks komunikasi manapun, norma-norma adalah fungsi dari faktor (1) karakteristik orang yang berinteraksi, (2) bentuk dari interaksi itu sendiri dan (3) lingkungan sekitar saat komunikasi berlangsung
  7. Manusia mengembangkan harapan-harapan tertentu pada perilaku komunikasi orang lain. Konsekuensinya tiap orang memiliki kemampuan untuk membedakan atau setidaknya memberikan tanggapan secara berbeda terhadap perilaku komunikasi orang lain yang menyimpang atau sejalan dengan norma-norma sosial.
  8. Penyimpangan dari harapan-harapan yang muncul akan membangkitkan tanggapan tertentu.
  9. Orang-orang yang berinterkasi membuat evaluasi terhadap orang lain.
  10. Penilaian-penilaian yang dilakukan dipengaruhi oleh persepsi terhadap sumber, bila sumber dihormati atau dianggap dapat memberikan ganjaran maka pesan komunikasinya akan dianggap penting pula demikian sebaliknya. (Venus: 2004: 484)

Proposisi pertama sebagaimana dinyatakan diatas menurut Neuliep (2000) dirujuk dari konsep-konsep dasar ilmu Antropologi, sosiologi dan Psikologi yang meyakini bahwa manusia adalah mahluk sosial yang memiliki naluri biologis untuk berdekatan atau hidup bersama orang lain. Sebaliknya manusia tidak bisa mentoleransi kedekatan fisik yang berlebihan karena manusia memiliki kebutuhan terhadap ruang pribadi dan privasi. Meski proposisi pertama ini tampaknya berlaku universal, namun kapan dan bagaimana derajat kebutuhan orang untuk menyendiri atau bersama orang lain sepenuhnya ditentukan secara kultural.

Proposisi kedua mengindikasikan bahwa hubungan kita dengan orang lain dipicu oleh ganjaran dalam konteks komunikasi. Dalam hal ini ganjaran tersebut dapat bersifat biologis (makanan, seks, atau rasa aman) atau sosial (rasa memiliki, harga diri atau status). Kebutuhan biologis dapat dipastikan berlaku universal, namun kebutuhan sosial umumnya dipelajari dari lingkungan dan akan berbeda dari satu budaya ke budaya lain.

Proposisi ketiga pada dasarnya menegaskan proposisi kedua dengan menambahkan bahwa manusia cenderung tertarik pada situasi yang mendatangkan ganjaran dan menghindari situsiasi komunikasi yang mengakibatkan kerugian. Proposisi ini juga tampaknya bersifat universal, namun perlu dicatat bahwa apa yang dianggap sebagai situasi yang menguntungkan atau merugikan akan dipahami secara berlainan dalam budaya yang berbeda.

Proposisi keempat manusia memiliki kemampuan untuk merasakan berbagai bentuk perbedaan dalam penggunaan jarak berkomunikasi. Atas dasar ini tiap individu dapat mengatakan kapan sesorang berbicara terlalu dekat atau terlalu jauh dengan dirinya.

Proposisi kelima terkait dengan penepatan perilaku  yang bersifat normatif Perilaku normatif disini diartikan sebagai perilaku yang umumnya diterima secara sosial dan memiliki pola-pola yang khas.

Proposisi keenam menegaskan bahwa meskipun tiap-tiap individu mengikuti aturan-aturan komunikasi verbal dan  yang normatif, tiap orang juga pada prinsipnya dapat mengembangkan gaya interaksi yang bersifat personal yang khas bagi dirinya sendiri.

Proposisi ketujuh menyatakan bahwa norma-norma komunikasi pada dasarnya merupakan fungsi dari karakteristik pelaku komunikasi (seperti jenis kelamin dan usia), karakteristik interaksi (misalnya derajat keakraban pelaku komunikasi dan status sosial masing-masing), serta karakteristik lingkungan yang meliputi seluruh aspek yang terkait dengan penataan tempat terjadinya peristiwa komunikasi.

Proposisi kedelapan berhubungan dengan unsur kunci teori ini yaitu konsep Ekspektasi. Dalam hal ini Burgon berpendapat bahwa selama proses komunikasi berlangsung pelaku komunikasi mengembangkan harapan­harapan tertentu pada perilaku  orang lain. Siapapun yang menjadi mitra komunikasi kita diharapkan dan diantisipasi berperilaku secara patut sesuai situasi yang dihadapi. Harapan-harapan  tersebut didasarkan pada norma-norma hudaya yang secara sosial berlaku pada suatu budaya tertentu. Namun demikian, pada kasus-kasus tertentu boleh jadi orang berharap munculnya perilaku yang berbeda yang keluar dari norma­norma yang berlaku.

Proposisi kesembilan terkait dengan unsur kunci NEV theory lainnya yakni Pelanggaran Harapan (Expectancy Violations). Sebagaimana dijelaskan di muka, ketika pengharapan  seseorang dilanggar, orang tersebut akan bereaksi dengan cara menafsirkan dan mengevaluasi apakah pelanggaran tersebut menguntungkan atau merugikan. Reaksi yang muncul dapat berupa perilaku komunikasi yang bersifat adaptif atau defensif.

Proposisi kesepuluh berkenaan dengan penilaian-penilaian yang dibuat oleh seseorang terhadap perilaku  orang lain.

Proposisi kesebelas memperjelas bagaimana tindakan evaluatif tersebut dibuat. Dalam hal ini ditegaskan bahwa faktor yang paling menentukan apakah suatu pelanggaran harapan  akan dinilai positif atau negatif adaiah derajat kemampuan komunikator untuk memberikan reward pada mitra komunikasinya atau dalam istilah teori ini disebut Communicator Reward Valence.

Burgoon dan Joseph Walther ( 1990) menguji berbagai touch-behaviors, proxemics, dan postures untuk menentukan mana yang diharapkan atau tak diharapkan di dalam komunikasi antarpribadi dan bagaimana harapan dipengaruhi oleh status sumber, daya pikat, dan gender. Beberapa penemuan menunjukkan bahwa jabatan tangan paling diharapkan sedangkan lengan di bahu adalah paling sedikit diharapkan. Perawakan tegap paling diharapkan dan perawakan yang tegang paling sedikit diharapkan. (Infante, 2003: 179)

Suatu studi dengan memanipulasikan nilai penghargaan dari komunikator dan valensi dan ekstrimitas dari perilaku pelanggaran dilakukan untuk menyelidiki interaksi antara siswa dan professor (Lannutti, Laliker,& Hall, 2001). Suatu skenario diciptakan denmgan menyertakan percakapan siswa dan professor. Suatu studi eksperimen memanipulasikan lokasi sentuhan profesor (tanpa sentuhan, sentuhan di tangan, atau paha), nilai penghargaan untuk profesor ( dari terendah, tidak suka atau dan meremehkan, atau yang tertinggi suka dan menghormati), dan jenis kelamin dari peserta (pria atau wanita). Jenis kelamin profesor juga disesuaikan sedemikian rupa sehingga selalu berlawanan jenis dengan peserta. Evaluasi tentang profesor kemudian diukur. ). (Infante, 2003: 180)

Teori pelanggaran pengharapan  “secara parsial didukung” pada studi ini oleh karena berdasarkan evaluasi peserta wanita, profesor menjadi lebih  negatif ketika keakraban dari sentuhan ditingkatkan. Semakin tak terduga sentuhan, semakin buruk profesor dan interaksi dievaluasi oleh peserta wanita ( Lannutti, Laliker,& Hall, 2001). ). (Infante, 2003: 180)

Referensi:

EM Griffin, At First Look at Communication, US: McGraw Hill.

Desember 23, 2009 Posted by | Komunikasi Antar Pribadi | 3 Komentar

Konsep diri, Atraksi, dan Hubungan Antarpribadi

Konsep Diri

Menurut para ahli, konsep diri dipahami sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita sendiri. Konsep diri dapat bersifat positif dan negatif.

Konsep diri yang positif, umumnya dicirikan dengan lima hal berikut:

  1. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah;
  2. Merasa setara dengan orang lain;
  3. Menerima pujian tanpa rasa malu;
  4. Menyadari, bahwa setiap orang mempunyai  berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat;
  5. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah.

Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam interaksi sosial dengan orang lain atau dalam konteks komunikasi antarpribadi. Hal ini terjadi karena:

  • Setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seseorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, mempelajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis yang baik.
  • Seseorang membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan baru.
  • Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.
  • Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri (terpaan selektif), bagaimana kita mempersepsi pesan (persepsi selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).

Atraksi interpersonal

Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Komunkasi antarpribadi dipengaruhi atraksi interpersonal dalam hal:

  • Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian kita terhadap orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional, kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.
  • Efektivitas komunikasi. Komunikasi antarpribadi dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, kita akan gembira dan terbuka. Bila berkumpul dengan denganorang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah, dan tidak enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.

Hubungan interpersonal

Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajad keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi.

Miller (1976) dalam Explorations in Interpersonal Communication, menyatakan bahwa ”Memahami proses komunikasi interpersonal menuntut hubungan simbiosis antara komunikasi dan perkembangan relasional, dan pada gilirannya (secara serentak), perkembangan relasional mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut.”

Lebih jauh, Jalaludin Rakhmat (1994) memberi catatan bahwa terdapat tiga faktor dalam komunikasi antarpribadi yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu:

  1. Percaya;
  2. sikap suportif; dan
  3. sikap terbuka.

Daftar pustaka

  1. Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
  2. Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
  3. Littlejohn, 1999, Theories of Human Communication, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.

Desember 17, 2009 Posted by | Komunikasi Antar Pribadi | 2 Komentar

Persepsi dalam Komunikasi Antar Pribadi

MEMAHAMI PERSEPSI

Persepsi adalah suatu proses yang mana kita menjadi sadar atau mengetahui suatu objek, peristiwa, dan khususnya seseorang melalui penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan, dan mendengar. Hasil dari persepsi berasal dari kejadian-kejadian di luar kita dan dari pengalaman kita, kebutuhan,keinginan, cinta dan kebencian.Persepsi sangatlah berpengaruh dalam komunikasi interpersonal kita terhadap orang lain. Persepsi interpersonal adalah proses yang berkelanjutan yang ada dan masuk pada dari satu orang kepada orang lainnya.

Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibat kegagalan komunikasi.

Ada tingkatan-tingkatan/tahapan  yang ada dalam persepsi interpersonal yakni:

Tahap Pertama: Perangsangan

Dalam tingkatan ini, panca indera kita akan dirangsang. Kita tidak merasakan apapun, melainkan, kita terlibat dalam selective perception , istilah dasar yang meliputi selective attention dan selective exposure. Dalam selective attention, kita memperhatikan sesuatu yang bagi kita akan memenuhi kebutuhan kita atau dapat menyenangkan kita. Contoh, ketika kita melamun di kelas kita tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pengajarkatakan , sampai nama kita dipanggil. Mekanisme selective attention kita memfokuskan panca indera pada nama kita.

Melalui selective exposure , kita meng-ekspose diri kita kepada orang atau pesan yang akan menegaskan tentang kepercayan kita atau pandangan kita. Contoh, setelah kita membeli mobil, kamu akan lebih suka untuk membaca dan mendengarkan iklan mobil yang telah dibeli, karena hal itu membuat kita yakin, bahwa kita melakukan hal yang benar.

Tahap kedua: Pengaturan (organisasi)

Dalam tingkatan ini, kita mengatur informasi yang ditangkap oleh panca indera kita .

Organization by rules. Biasanya digunakan, karena adanya kedekatan. Dalam suatu kedekatan, atau perkumpulan pasti ada suatu peraturan tersendiri yang hanya digunakan pada kelompok itu, dan yang mengetahui tentang peraturan itu juga hanya anggota dari kelompok itu.

Tahap ketiga: Interpretasi dan evaluasi

Tingkat ini sangatlah dipengaruhi oleh pengalaman , kebutuhan , keinginan . Dan juga akan dipengaruhi oleh peraturan, schemata dan itu juga dipengaruhi oleh gender. Contohnya, pada waktu ada pertemuan dengan pemain sepak bola, dan kita akan memandangnya sebagai seseorang yang kuat, ambisius dan egosentris.

Tahap keempat: Memory

Persepsi kita dan interpretasi-evaluasi mereka ditaruh dalam suatu memori. Mereka akan disimpan.

Tahap lima: Daya ingat

Suatu saat, kita akan menginginkan daya ingat dari informasi-informasi yang sudah disimpan dalam memory

ATRIBUSI

Proses atribusi, usaha untuk mengungkapkan penyebab dari perilaku seseorang, langkah petama kita untuk menentukan faktor eksternal individu atau beberapa individu secara bertanggung jawab.

Konsensus: kesamaan dengan yang lainnya. Ketika kamu menggunakan prinsip konsensus, kamu bertanya, ” apakah orang lain bersikap sama sebagai seseorang yang saya maksud.?” . Yaitu, seseorag yang bertingkah laku menurut konsesnsus, kaum mayoritas? jika jawabannya tidak anda lebih cenderung menyumbangkan tingkah laku ke beberapa faktor internal dan menyimpulkan: “orang ini berbeda.”

Konsistensi, kesamaan atas waktu. Ketika kamu menggunakan [rinsip konsistensi kamu bertanya-tanya apakah orang ini berulang-ulang (konsisten) bersikap sejalan dalam situasi yang sama. Jika jawabannya iya, terdapat kosistensi yang tinggi, perilaku kita aan cenderung dipengaruhi oleh faktorv internal.

Distinctiveness (membedakan), persamaan dalam situasi berbeda.

Ketika kita menggunakan prinsip membedakan, kita bertanya jika orang ini bereaksi serupa dalam situasi berbeda dan jika jawabannya ya, maka proses membedakannya rendah, dan kita mungkin menyimpulkan bahwa ada perilaku yang mempunyai suatu penyebab internal, jika bereaksi dengan cara yang sama dalam situasi yang berbeda, maka hal tersebut akan akan membantu kita untuk menyimpulkan bahwa kita berada dalam situasi tertentu dengan kondisi yang sangat tampak perbedaannya.

Controllability, kendali perilaku

Suatu saat mungkin kita dalam kondisi marah kemudian dapat mengatur emosi dan menerima alasan yang kedua. Dalam hal ini kita merasa bahwa orang lain, terutama dalam mengevaluasi perilaku mereka, kita sering bertanya kepada seseorang untuk bertanggung jawab atas perilakunya.

Umumnya, riset menunjukkan bahwa jika kita merasakan orang-orang bertanggung jawab atas perilaku negatif, kita tidak menyukai mereka. Tetapi kita akan merasa kasihan pada seseorang yang kita rasa tidak berlaku dalam kendali perilaku negatif, dan kita tidak akan menyalahkan orang tersebut untuk hal negatifnya.

Kesalahan atribusi; atribusi hubungan sebab akibat yang dapat mendorong kearah beberapa penghalang.

Self serving bias

Self serving bias adalah suatu mekanisme yang dirancang untuk menjaga harga diri. Kita melakukan sesuatu yang menyimpang ketika kita mendapat pujian karena hal positif dan menyangkal responsibilitas untuk hal negatif. Ada beberapa bukti( meskipun tidak banyak) bahwa kita menjelaskan perilaku ingroup dan outgroup anggota dengan cara yang berbeda, sebagi contoh, kita lebih mungkin untuk menjelaskan perilaku positif anggota ketika]secara internal termotivasi dan bukan perilaku positif anggota ketika secara eksternal termotivasi, maka kita akan lebih cenderung untuk menjelaskan, suatu catatan yang memberikan banyak kontribusi untuk anggota mengenai kultur kita seperti: “mereka adalah orang-orang yang beramal, dan kita yakin bahwa mereka membantu orang lain.”Jika hal ini ditunjukkan untuk menjadi benar untuk anggota tentang kultur lain, kita akan cenderung untuk mengatakan: “mereka adalah orang kaya; mereka memerlukan pengurangan tugas.”

Overattribution

Overattribution adalah kecenderungan untuk memilih satu atau dua karakteristik yang tampak nyata pada seseorang dan menujukan kepada orang semua hal untuk mengerjakan karakteristik ini. Untuk mencegah overattributions, yaitu dengan mengenali bahwa kebanyakan perilaku dan karakteristik kepribadian diakibatkan oleh banyak faktor. Kita hampir selalu membuat sebuah kesalahan ketika kita memilih sebuah penyabab dan segala atribusi untuk hal tesebut. Ketika kita membuat sebuah penilaian, tanyakan pada diri kita jika factor lain dapat berperan di sini.

The fundamental attribution error

Kesalahan attribusi pokok yang terjadi adalah ketika kita memberikan kontribusi nilai yang lebih mengenai faktor internal dan menilai rendah pengaruh dari faktor eksternal. Satu alasan untuk memberi beban yang lebih besar ke faktor eksternal dalam menjelaskan perilaku kita dibandingkan jika kita merusak menjelaskan perilaku dari yang lain adalah bahwa kita mengetahui situasi sekitar, sebagai contoh, apa yang terjadi atas hidup kiat dan kita mengetahui kondisi finacial kita, maka kita secara alami melihat pengaruh yang datang dari faktor ini. Tetapi kita jarang mengetahui bahwa terkadang banyak hal di sekitar kita tidak menghiraukan factor luar yang menjadi penyebab.

Referensi:

Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Desember 17, 2009 Posted by | Komunikasi Antar Pribadi | Tinggalkan komentar

Bahan Kuliah KAP

Teori Pelanggaran Harapan Nonverbal_Expect Violation Theory-HO

Desember 15, 2009 Posted by | Komunikasi Antar Pribadi | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.