Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

Komunikasi dalam Perspektif Ritual

Komunikasi Dalam Perspektif Ritual
Oleh: Petrus A. Andung

Sebelum lebih jauh mendalami komunikasi dalam perspektif ritual, terlebih dahulu dipahami akan ritual itu sendiri. Kata ritual selalu diidentikkan dengan habit (kebiasaan) atau rutinitas. Rothenbuhler (1998) menguraikan bahwa, ”ritual is the voluntary performance of appropriately patterned behavior to symbolically effect or participate in the serious life”. Sementara itu, Couldry memahami ritual sebagai suatu habitual action (aksi turun-temurun), aksi formal dan juga mengandung nilai-nilai transendental. Mencermati pandangan-pandangan tersebut, dipahami bahwa ritual berkaitan dengan pertunjukan secara sukarela yang dilakukan masyarakat secara turun-temurun (berdasarkan kebiasaan) menyangkut perilaku yang terpola. Pertunjukan tersebut bertujuan mensimbolisasi suatu pengaruh dalam kehidupan kemasyarakatan. Lebih jelasnya, Rohtenbuhler menguraikan beberapa karakteristik dari ritual itu sendiri sebagai berikut:
1. Ritual sebagai aksi
Ritual merupakan aksi dan bukan hanya sekedar pemikiran atau konsep semata. Dalam kehidupan sehari-hari, mitos adalah salahsatu rasionalisasi dari aktifitas ritual. Dengan demikian ritual dipandang sebagai suatu bentuk aksi tidak saja sebagai salahsatu cara berpikir. Ritual pun merupakan sesuatu hal dimana orang mempraktekkannya dan tidak saja dipendam dalam benak.
2. Performance (pertunjukan)
Ritual dipertunjukkan sebagai suatu bentuk komunikasi tingkat tinggi yang ditandai dengan keindahan (estetika), dirancang dalam suatu cara yang khusus serta memperagakan sesuatu kepada khalayaknya. Karena menekankan pada unsur estetika, pertunjukan ritual mengandung dua karakteristik. Pertama, ritual tidak pernah diciptakan dalam momentum aksi itu sendiri. Sebaliknya, ritual selalu merupakan aksi yang didasarkan pada konsepsi-konsepsi yang ada sebelumnya. Kedua, ritual selalu merupakan pertunjukan untuk orang lain. Pertunjukan tersebut dimaksudkan untuk memperagakan kompetensi komunikasi kepada khalayak.
3. Kesadaran dan Kerelaan
Ritual selalu dilakukan secara sadar dan karenanya bersifat kerelaan. Dalam hal ritual-ritual yang bersifat special event, orang secara sadar untuk terlibat baik sebagai pelaku pertunjukan maupun sebagai penonton. Biasanya untuk terlibat dalam suatu ritual adalah pilihan. Orang dapat memilih untuk terlibat ataupun sebaliknya tidak terlibat.
4. Irrational
Seringkali ritual dipandang sebagai tindakan yang irrational (tidak masuk akal) karena dianggap tidak banyak bermanfaat bagi tujuan-tujuan yang spesifik. Parsons lalu berkesimpulan bahwa pelaksanaan ritual-ritual seringkali diasosiasikan dengan praktek magic. Dalam konteks yang demikian, ritual dipandang tidak masuk akal. Namun, pendapat di atas dibantah oleh Wallace yang menyatakan kalau ternyata tidak semua ritual bersifat irrational dan noninstrumental dalam segala hal. Dalam pandangan Wallace, ritual magic sekalipun dipakai untuk mempertunjukkan fungsi-fungsi sosial yang lain seperti mengurangi keragu-raguan, bagaimana menghasilkan kesepakatan, dan bahkan bisa menginspirasi orang lain untuk bertindak.
5. Ritual bukanlah sekadar Rekreasi
Berbagai ritual yang dipraktekkan tidaklah sekadar kegiatan rekreasi. Walaupun sering terjadi perayaan melalui ritual, namun ritual bukan saja untuk kegiatan hura-hura atau bersenang-senang semata. Sesungguhnya ritual merupakan bagian dari kehidupan yang serius (serious life).
6. Kolektif
Secara menyeluruh, ritual bnukanlah sesuatu yang dilakukan secara individual untuk kepentingan individual dalam cara-cara yang murni individualistik. Ritual meskipun dipertunjukkan secara pribadi, tetapi selalu terdapat struktur secara sosial di dalamnya. Misalnya saja: sistem bahasa dan tanda yang digunakan, tradisi, dan moral. Selain itu, ritual juga berorientasi pada suatu kelompok dan umumnya ditampilkan dalam situasi-situasi sosial. Bahkan, ritual tidak saja ditampilkan dalam situasi sosial dan diatur oleh fenomena sosial melainkan ritual juga memliki maksa-makna sosial. Karena itulah Leach mengatakan bahwa ritual selalu merujuk pada relationship (relasi) dan posisi sosial. Ritual pun merupakan salah satu cara dalam mengukur dan menyampaikan maksud-maksud yang berorientasi sosial.
7. Ekspresi dari Relasi Sosial
Ritual meliputi penggunaan model-model perilaku yang mengekspresikan relasi sosial. Bentuk-bentuk dari aksi ritual merupakan simbol-simbol dari referen atau penunjuk dalam relasi sosial, perintah-perintah, dan institusi-institusi sosial dimana ritual itu dipertunjukkan.
8. Subjunctive dan Not Indicative
Ritual selalu terjadi dalam modus pengandaian. Hal mana bahwa ritual seringkali berkaitan dengan berbagai kemungkinan seperti bagaimana sebaiknya/seharusnya, dan bukanlah apa menyangkut sesuatu yang sedang terjadi. Sebagaimana Handelman menjelaskan, ritual-ritual boleh saja dipakai sebagai model atau menghadirkan ide berkaitan dengan berbagai peraturan sosial, namun ritual tidak pernah mencerminkan status quo secara struktural.
9. Efektifitas simbol-simbol
Simbol-simbol dalam suatu ritual sangat efektif dan powerful. Kekuatan dari simbol-simbol ritual ini secara jelasnya nampak dalam bentuk ritus. Simbol-simbol ritual selalu berperan dalam semua bentuk ritual. Bahkan, ketika terjadi transformasi sosial yang tidak menampilkan maksud secara eksplisit dari suatu pertunjukan ritual seperti halnya sebuah lagu, tarian, gerak-gerik tubuh, doa, perjamuan, kebiasaan, dan sebagainya. Simbol-simbol tersbut berfungsi sebagai alat komunikasi.
10. Condensed Symbols
Simbol-simbol yang singkat merujuk pada karakteristik dari simbol-simbol ritual yang memiliki makna dan aksi ganda. Karenanya, simbol-simbol yang dipersingkat atau kental (condensed symbols) seringkali membingungkan (ambiguous) dan sulit bagi pengamat sosial. Misalnya, simbol dapat ditampilkan dalam cara-cara yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda; tergantung pada kepekaan mereka terhadap perbedaan-perbedaan valensi. Implikasinya, simbol-simbol mengandung makna lebih dari yang biasanya.
11. Ekspresif atau Perilaku Estetik
Ekspresif adalah salah satu bentuk inti dari ritual dimana mengambil posisi sebagai bagian dari apa yang dilakukan dalam ritual serta bagaimana melakukannya. Ritual juga mempunyai komponen estetika yang mendasar. Banyak dari komponen-komponen estetika tersebut sangat menakjubkan.
12. Customary Behavior
Ritual merupakan bentuk-bentuk dari perilaku yang bersifat kebiasaan. Ritual mengandung makna pengulangan sebagaimana dilakukan dengan cara yang serupa pada zaman atau era sebelumnya. Artinya, ritual tidaklah dikarang oleh para pelaku. Sebaliknya, ritual merupakan perilaku yang didasarkan menurut kebiasaan atau aturan yang distandarkan. Dengan demikian, perilaku karena kebiasaan ini bersifat imperatif, berkaitan dengan etika, serta perintah sosial.
13. Regularly Recuring Behavior
Ritual merupakan perilaku yang dilakukan berulang (repetitive) secara rutin. Banyak ritual yang dilakukan secara terjadwal, dan ditentukan mengikuti suatu siklus waktu. Salahsatu implikasi penting dari ritual yang terjadi secara berkala ini adalah ia tidak diatur dan didikte oleh situasi yang spesifik, melainkan melalui apa yang dipandang benar.
14. Komunikasi tanpa informasi
Sebetulnya ide tentang ritual sebagai suatu komunikasi tanpa informasi menekankan bahwa dalam ritual lebih banyak menampilkan atau mengetengahkan pertunjukan ketimbang informasi. Dalam hal-hal tertentu, lebih cenderung mengutamakan penerimaan daripada perubahan. Sebagaimana diketahui bahwa ada unsur kerelaan dalam ritual. Kemudian aksi untuk terlibat dalam ritual juga adalah pilihan. Karena itu dalam setiap ritual terkandung sedikit tidak sejumlah informasi.
15. Keramat
Banyak ahli menekankan bahwa ritual adalah aksi yang berkaitan dengan keramat atau sakral. Adapun kriteria dari kesakralan itu adalah menayangkut pola aktifitas atau tindakan dari anggota masyarakat. Contohnya, bagaimana masyarakat menyuguhkan dan memperlakukan obyek-obyek yang dianggap sakral. Tindakan semacam ini mencerminkan suatu tendensi betapa pentingnya suatu benda yang disakralkan tersebut dalam kehidupan mereka.
Ritual merupakan salahsatu cara dalam berkomunikasi. Semua bentuk ritual adalah komunikatif. Ritual selalu merupakan perilaku simbolik dalam situasi-situasi sosial. Karena itu ritual selalu merupakan suatu cara untuk menyampaikan sesuatu.
Menyadari bahwa ritual sebagai salah satu cara dalam berkomunikasi, maka kemudian muncul istilah komunikasi ritual. Istilah komunikasi ritual pertama kalinya dicetuskan oleh James W. Carey. Ia menyebutkan bahwa, ”In a ritual definition, communication is linked to terms such as “sharing,” “participation,” “association,” “fellowship,” and “the possession of a common faith.” Hal ini berarti, dalam perspektif ritual, komunikasi berkaitan dengan berbagi, partisipasi, perkumpulan/asosiasi, persahabatan, dan kepemilikan akan keyakinan iman yang sama.
Selanjutnya ditambahkan Carey, dalam pandangan ritual, komunikasi tidak secara langsung diarahkan untuk menyebarluaskan pesan dalam suatu ruang, namun lebih kepada pemeliharaan suatu komunitas dalam suatu waktu. Komunikasi yang dibangun juga bukanlah sebagai tindakan untuk memberikan/ mengimpartasikan informasi melainkan untuk merepresentasi atau menghadirkan kembali kepercayaan-kepercayaan bersama.
Pola komunikasi yang dibangun dalam pandangan ritual adalah sacred ceremony (upacara sakral/suci) dimana setiap orang secara bersama-sama bersekutu dan berkumpul (fellowship and commonality). Senada dengan hal ini, Radford menambahkan, pola komunikasi dalam perspektif ritual bukanlah si pengirim mengirimkan suatu pesan kepada penerima, namun sebagai upacara suci dimana setiap orang ikut mengambil bagian secara bersama dalam bersekutu dan berkumpul sebagaimana halnya melakukan perjamuan kudus. Dalam pandangan ritual, yang lebih dipentingkan adalah kebersamaan masyarakat dalam melakukan doa, bernyanyi dan seremonialnya.
Perwujudan atau manifestasi komunikasi dalam pandangan ini bukanlah pada transmisi/pengiriman informasi-informasi intelijen namun diarahkan untuk konstruksi dan memelihara ketertiban, dunia budaya yang penuh makna dimana dapat berperan sebagai alat kontrol dalam tindakan/pergaulan antar sesama manusia. Komunitas ideal diwujudkan dalam bentuk materi seperti tarian, permainan, arsitektur, kisah, dan penuturan. Penggunaan bahasa baik melalui artifisial maupun simbolik (sebagaimana nampak dalam wujud tarian, permainan, kisah, dan tutur lisan) tidak ditujukan untuk kepentingan informasi tetapi untuk konfirmasi; juga tidak untuk mengubah sikap atau pemikiran, tetapi untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap penting oleh sebuah komunitas; tidak untuk membentuk fungsi-fungsi tetapi untuk menunjukkan sesuatu yang sedang berlangsung dan mudah pecah (fragile) dalam sebuah proses sosial.
Perspektif ini kemudian memahami komunikasi sebagai suatu proses melalui mana budaya bersama diciptakan, diubah dan diganti. Dalam konteks antropologi, komunikasi berhubungan dengan ritual dan mitologi. Sedangkan dalam konteks sastra dan sejarah, komunikasi merupakan seni (art) dan sastera (literature). Komunikasi ritual pun tidak secara langsung ditujukan untuk menyebarluaskan informasi atau pengaruh tetapi untuk menciptakan, menghadirkan kembali, dan merayakan keyakinan-keyakinan ilusif yang dimiliki bersama (Rothenbuhler, 1998).

Desember 15, 2009 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. bapak Petrus, saya mau menanyakan untuk karakteristik ritual menurut Rohtenbuhler, saya ingin mengetahui judul bukunya, terimakasih pak

    Komentar oleh nato | Maret 25, 2012 | Balas

    • Judul Bukunya, Rothenbuhler, Eric W. 1998. Ritual Communication: From Everyday Conversation to Mediated Ceremony. SAGE Publications, Thousand Oaks.Susah nyari bukunya di Indonesia. Coba aja pesan melalui amazon… Aku juga dapatkan bukunya saat short course di USA…

      Komentar oleh Petrus Andung | April 7, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: