Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

Komunikasi Massa

Media Modern dan Media Tradisional
Oleh: Petrus A. Andung

Everett M. Rogers, sebagaimana dikutip Effendy (2000, Hal. 79), menyatakan ”selain media massa modern terdapat media massa tradisional yang meliputi teater rakyat, juru dongeng keliling, juru pantun dan lain-lain”. Media massa modern meliputi surat kabar dan majalah yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum, dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. Pendapat ini senada dengan Rachmadi (dalam Oepen, 1988) yang menegaskan, hanya karena perbedaannya dalam sumber, sifat dan ruang lingkup, kemudian dibedakan antara media massa tradisional, yakni bentuk-bentuk media komunikasi yang masih terus dipakai dalam masyarakat pedesaan yang tradisional, dan media massa modern seperti majalah, surat kabar, radio, televisi, film dan sebagainya.
Bentuk-bentuk media modern sebagaimana disebutkan di atas sering disalahkan sebagai penyebab surutnya media tradisional. Padahal, eksistensi media tradisional tidak lepas dari peran media modern. Lent (1982) menyebutkan, ”media modern kini juga memberikan kontribusi yang cukup besar pada konservasi media tradisional, yaitu dengan jalan menyiarkan kesenian-kesenian asli.
Radio misalnya, adalah salahsatu bentuk media modern yang paling berhasil menyiarkan kesenian rakyat dan di dengar sampai ke seluruh pelosok tanah air. Di Indonesia, radio dianggap berhasil menyiarkan kesenian rakyat. RRI hampir selalu menyajikan acara musik daerah dan drama rakyat.

Selain Radio, media-media modern lainnya di Indonesia juga tidak ketinggalan dalam ikut mengangkat dan mempromosikan berbagai keunikan budaya nusantara dalam bentuk kesenian tradisional. Televisi misalnya, terdapat beberapa stasiun penyiaran yang pernah dan masih berkomitmen menyajikan program-program acara bernuansa melestarikan pelbagai kesenian tradisional daerah di Indonesia. Sebut saja acara-acara seperti Jelajah Nusantara di Trans TV, Ria Jenaka yang sangat terkenal di TVRI, maupun Ketoprak Humor di RCTI. Karya-karya seni tradisional tersebut disajikan guna mendapat apresiasi dari para pemirsa.
Menyimak pendapat-pendapat tersebut maka dapatlah dikatakan bahwa hubungan antara media tradisional dengan media modern bersifat komplementer (saling melengkapi). Keberadaan media-media modern tidak menghilangkan tumbuh kembangnya media-media tradisional. Kehadiran media modern tidaklah mungkin dapat menggantikan media-media tradisional. Malah sebaliknya, keduanya saling memberikan manfaat yang saling menguntungkan. Media modern berperan dalam mengkonservasi media-media tradisional. Sebaliknya media tradisional juga dapat menjadi penunjang media modern berkaitan dengan penyampaian pesan kepada masyarakat desa. Untuk itu, Rachmadi menyampaikan:
Media tradisional justru merupakan penunjang media massa modern, yaitu untuk mengembangkan informasi atau pesan yang disampaikan melalui media massa, seperti radio, TV, film, surat kabar dan sebagainya, atau sebagai penerjemah untuk menjelaskan informasi yang sulit dimengerti oleh masyarakat pedesaan.

Media tradisional pun memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki media modern. Sebagaimana ditunjukkan Dissanayake (dalam Rachmadi, 1988), beberapa kelebihan media tradisional dibanding dengan media massa yang ada di negara-negara yang sedang berkembang:
1. Kredibilitas media tradisional lebih besar, karena ia telah lama dikenal. Media tersebut dapat mengekspresikan kebutuhan, kegembiraan, kesedihan, kemenangan, ataupun kekecewaan masyarakat yang mendalam karena menderita kekalahan.
2. Para petani menganggap bahwa media massa di negeri mereka bersifat elit, yang hanya melayani kepentingan kelompok yang berkuasa.
Media tradisional menggunakan ungkapan-ungkapan dan simbol-simbol yang mudah dipahami oleh rakyat, dan mencapai sebagian dari populasi yang berada di luar jangkauan pengaruh media massa, dan yang menuntut partisipasi aktif dalam proses komunikasi.

Referensi

– Effendy, Onong Uchjana. 2000. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

– Oepen, Manfred. 1988. Komunikasi Penunjang Pembangunan Indonesia dalam Konteks Internasional dalam MEDIA RAKYAT; Komunikasi Pengembangan Masyarakat. Editor: Manfred Oepen. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). 1988.

– Rachmadi, F. 1988. Manfaat Media Komunikasi dalam Pembangunan Masyarakat dalam Media Rakyat; Komunikasi Pengembangan Masyarakat. Editor: Manfred Oepen. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Desember 15, 2009 - Posted by | Komunikasi Massa

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: