Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

Budaya Massa (Budaya Populer)

Kritik terhadap budaya massa atau populer kini memasuki lebih dari dua ratus tahun, dan dalam bentuk kontemporernya. Herbert J. Gans membagi kritik-kritik tersebut ke dalam empat tema, yaitu:

  1. Karakter negatif dari penciptaan budaya massa. Budaya populer tidak disukai sebab tidak seperti budaya tinggi, ini diproduksi secara massal oleh pengusaha yang berorientasi profit semata untuk kepuasan para audiens;
  2. Pengaruh negatif terhadap budaya tinggi. Budaya populer terbawa dari budaya tinggi, sehingga merendahkannya, dan juga daya tarik bagi jalan para kreator budaya tinggi, lalu menghabiskan mata air talenta;
  3. Efek negatif budaya populer terhadap audiens. Konsumsi budaya populer mengandung kesenangan yang terbaik, dan hal ini membawa dampak buruk yang berbahaya secara emosional kepada audiens;
  4. Efek negatif kepada masyarakat. Distribusi yang luas terhadap budaya populer tidak hanya mengurangi tingkat kualitas budaya—atau masyarakat madani—tetapi juga mendorong totalitarianisme dengan penciptaan suatu audiens yang pasif, responsif yang ganjil kepada teknik persuasi massa yang digunakan dengan bakat diktatorsif.

Cacat Budaya Populer sebagai suatu Usaha Komersial

Aliran kritis terhadap proses dimana budaya populer diciptakan terdiri atas tiga hal: 1) budaya massa adalah suatu industri yang terorganisasikan untuk profit, ia diproduksi untuk industri ini untuk menguntungkan; 2) ia harus mencipta suatu produk yang serba sama dan terstandadisasikan guna menyesuaikan terhadap sekelompok audiens massa, dan 3) hal itu membutuhkan suatu proses industri yang mentransformasi pencipta sebagai pekerja terhadap suatu produksi massa lini rakitan, yang membuat pencipta menyerah terhadap ekspresi individual pada keterampilan dan nilai dirinya. Analisis ini dipertajam oleh pernyataan Dwight MacDonald.

Perbedaan di antara Budaya-budaya LAINNYA

Pengaruh sistematik untuk mengevaluasi tiga hal di atas masih langka, namun perbedaan antara budaya populer dengan budaya tinggi sebagaimana institusi ekonomi adalah lebih kecil dari yang dianjurkan. Untuk memastikan, budaya populer didistribusikan oleh perusahaan bermotifkan profit yang mencoba memaksimalkan jumlah audiens, namun kemudian ini menyebabkannya sebagai budaya tinggi.

Satu perbedaan utama antara budaya populer dan budaya tinggi adalah pada ukuran dan heterogenitas dari total audiens. Budaya tinggi membidik sejumlah kecil orang-orang, mungkin tidak lebih dari separuh juta di semua negara bagian di AS, dimana program TV yang terkenal mungkin ditonton oleh lebih dari 40 juta. Sedangkan budaya populer lebih besar, juga lebih heterogen, dan meskipun budaya tinggi dibanggakan namun terbatas pada selera individualitas sebagai fakta budaya tinggi ini lebih homogen daripada budaya populer publik. Berdasarkan ukuran audiens, budaya populer diproduksi-massal, namun dengan demikian juga mengandung budaya tinggi yang banyak seperti buku-buku, rekaman, dan film-film. Beberapa para pengguna budaya tinggi cukup kaya untuk membeli lukisan asli, namun sebagian besar—sebagaimana pembeli seni populer—harus puas dengan cetakan produksi-massal.

Bahaya Budaya Populer terhadap Budaya Konteks Tinggi

Tema kedua dari kritik budaya massa ini adalah dua hal, yakni: budaya populer membawa serta konten dari budaya tinggi dengan konsekuansi merendahkan derajatnya, dan ini, dengan memberikan insentif ekonomis, budaya populer mampu memikat para pencipta budaya tinggi, sehingga merusak kualitas budaya tinggi itu. Van den Haag menjelaskan konsepsi prosesnya sebagai berikut: “Korupsi terhadap budaya tinggi dengan budaya populer terjadi dalam sejumlah bentuk, memulai secara langsung pencampuran. Misalnya Bach digulai oleh Stokowski, Bizet diracuni oleh Rodgers dan HammersteinFreud divulgarkan ke dalam kolom-kolom surat kabar (bagaimana menjadi bahagia dengan penyesuaian yang baik). Korupsi juga berada dalam bentuk mutilasi dan kondensasi… pekerjaan dipotong, dikondensasikan, disederhanakan dan ditulis-ulangkan hingga pada semua yang mungkin—pengalaman dan estetika yang masih asing—digagahi.”

Pengaruh Budaya Populer terhadap Audiens

Hal ketiga—dan jauh lebih serius dampaknya—adalah tema kritik bahwa budaya massa menyalahkan budaya populer memproduksi pengaruh-pengaruh berbahaya terhadap orang-orang yang menggunakannya. Sejumlah pengasuh khusus telah ditemukan: budaya populer secara emosional merusak sebab di dalamnya terkandung kesenangan semu dan membrutalkan kekerasan dan seks; inilah yang secara intelektual merusak sebab ia hanya mengejar konten yang merintangi audiens untuk melihat kenyataan; dan inilah yang merusak secara budaya, menghalangi kemampuan orang untuk ambil-bagian pada budaya tinggi.

PENGARUH BUDAYA POPULER

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang memilih isi media untuk memenuhi kebutuhan individual dan kelompoknya daripada menyesuaikan kehidupannya dengan apa yang diutarakan media atau keagungan. Mereka bukan individu terisolasi yang lapar seperti budak dan lalu menelan apa saja yang disajikan media, namun mereka adalah keluarga-keluarga, pasangan, dan kelompok sebaya yang menggunakan media ketika dan jika isi media relevan dengan tujuan dan kebutuhan kelompok. Dus, audiens tidak dapat diperhitungkan sebagai massa. Terlebih lagi orang-orang sedikit memperhatikan media dan sedikit dikuasai oleh kontennya daripada kritik—mereka yang lebih sensitif pada verbal dan simbol material lainnya, percaya. Mereka menggunakan media untuk hiburan (selingan) dan tidak akan berpikir penerapan isinya ke dalam kehidupannya. Akhirnya, pilihan konten dipengaruhi oleh persepsi selektif, sehingga orang-orang sering memilih konten yang sesuai dengan nilai dirinya dan menginterpretasikan isi yang komplikasi sehingga mendukung nilai tersebut. Maka pengaruh utama media adalah untuk mengokohkan perilaku dan sikap yang sudah ada daripada menciptakan yang baru.

Dalam perkembangan terakhir, riset tentang pengaruh memperhatikan pengaruhnyaterhadap kekerasan, khususnya terhadap perilaku anak-anak. Penelitian Herbert J. Gans terhadap tema ini menyarankan bahwa sikap dan aksi kekesaran pada media hanya untuk sebagian orang pada waktu yang bersamaan. Untuk memastikannya, studi laboratori memperlihatkan dalam jangka waktu lama bahwa film kekerasan mempengaruhi gerak-hati dan aksi diantara subyek anak-anak setelah menonton, namun tak seorang pun memperlihatkan pengaruh yang masif dalam jangka panjang. Studi di luar ruang memperlihatkan beberapa korelasi antara kekerasan televisi dan perilaku agresif yang biasanya dihasilkan dari kelompok konflik yang sering muncul secara spontan–kecuali anak-anak yang menonton—sulit untuk membayangkan bahwa televisilah penyebabnya atau yang mempertajam ekspresi agresifnya. Televisi dan media lainnya secara sederhana tidak ‘bermain’ dalam seluruh hidup anak-anak; aksi dan sikapnya yang diambil dari orangtua masing-masing dan sebayanya sejauh ini lebih beralasan.

Jika media memiliki suatu pengaruh signifikan terhadap sikap dan perilaku agresif sebagai kritik beberapa peneliti, peningkatan kekerasan secara konstan dimanifestasikan di Amerika sejak munculnya media massa, tetapi studi historikal mengatakan bahwa krminial kekerasan telah menurun selama periode yang sama. Tambahan lagi, anak-perempuan dan kaum berada bertindak sebagai cenderung-mendapat kekerasan sebagainmana anak laki-laki dan kaum miskin, namun studi ini memperlihatkan konsistensi pada anak-anak perempuan tidak bereaksi agresif setelah menonton kekerasan di media. Lebih lanjut, kemiskinan membenihkan kekerasan bahkan sebelum media massa ditemukan.

Observasi tersebut mengenai kekerasan media dan seks diterapkan ke dalam elemen kritis lainnya pada budaya populer dengan baik. Dengan pengukuran tujuan lainnya, fitur budaya populer banyak yang menghasilkan kebahagiaan pada akhirnya, para pahlawan dengan kekuatan super alami dan kebajikan-kebajikan lainnya, dan menyusun solusi terhadap masalah, di antaranya.

PENGARUH BERITA

Pengaruh berita tidak pernah diselidiki secara seksama, meskipun terdapat beberapa pengaruh dalam berita yang mengandung lebih dari apa yang mayoritas audiens inginkan untuk diterima, pemirsa tidak secara separuh-separuh mencurahkan, bahkan pada program berita yang menjadi favoritnya pun, dan orang-orang itu menggunakan sikap politiknya terhadap sumber berita televisi yang jadi favoritnya. Studi terdahulu terhadap pengaruh film propaganda dan dokumenter memperlihatkan bahwa mereka mengubah beberapa sikap.

Penggunaan periklanan politik adalah sangat berbahaya ketika para calon bersaing—atau isu-isu—memiliki sumber yang tidak imbang dan orang yang mempengaruhi dapat mendominasi media. Sebagian besar pengaruh media berita kemungkinan dihasilkan dari berita-berita ketimbang dari periklanan politik, dan dari cara berita dipresentasikan. Beberapa peneliti komunikasi massa mendebat bahwa pengaruh utama berita media adalah “agenda setting”, yang dilaporkan media sebagai berita tentang debat politik, atau sebagaimana disebut Steven Chaffee sebagai “komunikasi massa melayani lebih untuk menentukan pertanyaan-pertanyaan daripada jawaban-jawaban yang dirujuk audiens dalam meraih keputusan politik.

Dalam beberapa tahun terakhir, para jurnalis lebih perhatian pada bias-bias yang disengaja dan tak-disengaja, sebagian karena kritik dari kedua kalangan Kiri dan Kanan. Dalam mengonseptualkan, penelitian, dan penganalisaan peristiwa yang dijelaskan, mereka tidak dapat membantu namun bekerja dari perspektif masyarakat atau setidaknya dari profesi mereka, kelas, dan kelompok-usia, diantara lainnya, dan dari nilai-nilai dan kelompok kepentingan dengan hal itu.

Pengaruh dari nilai diri para wartawan sendiri—atau cara menentukan peristiwa yangpunya nilai-berita—terhadap audiens kemungkinan lebih kecil daripada pikiran secara umum, untuk dengan respek kepada peristiwa dan isu tentang kepedulian orang secara mendalam, mereka menlandaskan kepada sumber informasi lebih dari seorang—dan bias. Media mungkin lebih berpengaruh terhadap persepsi peristiwa dan isu-isu tentang perhatian publik yang kurang, khususnya di luar AS.

Pengaruh utama berita media adalah secara tidak langsung; yakni, jurnalis membantu untuk mencipta dan menggambarkan masyarakat dan dunia terhadap hal yang dilaporkan. Politisi dan pengambil keputusan publik lainnya tidak hanya melihat pada gambaran ini tetapi juga mencoba untuk menentukan bagaimana opini publik akan bereaksi atas itu, yang dipengaruhi oleh keputusan sesudahnya.

Bahaya Budaya Populer pada Masyarakat

Kritik terhadap efek budaya populer terhadap masyarakt mengandung dua hal. Pertama, bahwa budaya populer selera (yang lebih) rendah masyarakat secara keseluruhan, sehingga menurangi kualitasnya sebagai masyarakat. Kedua, hal itu dianjurkan karena media massa dapat “menakortikakan” dan “mengatomkan” orang-orang, turut menyebabkan mereka dicurigai terhadap teknik persuasi massa dengan keterampilan demagogues yang mencabut demokrasi. Bernard Rosenberg merangkumnya sebagai berikut: “Pada tempatnya yang  terburuk, budaya massa diperlakukan tidak hanya untuk mengkerdilkan selera tetapi untuk membuat brutal sembari memberi jalan kepada totaliterianisme.

Pernyataan yang lebih luas pada hal yang kedua, seringkali diidentifikasi dengan Kiri Baru tetapi juga bersuara di Kanan, itulah budaya massa yang bertentangan dengan demokrasi. Herbert Marcuse menlihatnya bahwa, pengawasan dengan teknologi modern pada perusahaan telah menjadi lokomotif masyarakat dimana budayapopuler membuat orang lebih dan lebih nyaman dalam kehidupannya dengan menyembahnya untuk kebebasan sebagai perlawanan atas apa yang ada dalam realita dalam sistem sosial yang bejat yang membiarkan kemiskinan, perang imperialistik pengupahan terhadap petani yang tak berdaya ketidaksepakatan perijinan yang hanya sepanjang ketidakefektifannya.

BUDAYA DAN TINGKAT CITARASA

Gnas menyebut bahwa iaa percaya pada kedua kemasyarakatan dan budaya populer sebagai hal yang tidak tepat. Alasan bahwa budaya populer menarik gerbong menuju suatu kemunduran masyarakat dari tingkat citarasa adalah dasar terhadap suatu perbandingan yang lonjong, dengan fitur terbaik dari perbandingan terakhir kepada penampilannya yang terburuk. Penulis seperti Oswald Sprengler dan Jose Ortega y Gasset mengingatkan kita hanya sejarah Shakespears dan Beethovens dan melupakan bakat para kerabatnya yang diabaikan. Hal yang sama, bahwa mereka mengingat jenis khusus dari seni suara, tetapi lupa yang lainnya yang lebih brutal atau vulgar daripada sesuatu dalam budaya populer hari ini.

BUDAYA DAN TOTALITARIANISME

Pernyataan bahwa budaya populer dapat menjadi lokomotif ke arah totalitarianisme adalah berdasarkan pada argumen yang menjadi pusat masyarakat, dan apa yang oleh Karl Mannheim sebut sebagai “rasionalisasi fungsional”, keluarga dan kelompok utama dan asosiasi sukarela dan kelompok sekunder yang berdiri di antara individu dan negara telah kehilangan kekuatan, meninggalkan individual sebagai suatu atom yang kehilangan-daya vis-a-vis negara.

Analisis dibutuhkan untuk memecahkan ke dalam elmen pengikut. Hal ini benar bahwa Negara dapat mengambil alih media-massa masyarakat ke dalam sasarannya sendiri, yang mungkin terjadi pada masa perang bahkan di negara sistem demokratis sekali pun.

Bahkan juga, ketika kekuasaan negara meningkat, dan dalam kondisi krisis, mungkin orang-orang menjadi lebih takut dan sering-panik, atau juga diperlakukan oleh perubahan sosial yang mereka inginkan untuk memberi kekuasaan kepada pemimpin yang kuat yang bisa menjanjikan jalan keluar atas masalaha yang dihadapi.

Karena media membantu mempertajam budaya dan iklim politik masyarakat, mereka secara konstan menyusun kembalidengan suatu tekanan, dan bahkan dengan upaya pengambilalihan. Sebagian mengenai hal ini adalahbenar dalam televisi. Dalam masyarakat demokratik, solusi ideal harusnya memiliki media yang terorganisasi sebagai institusi nonprofit yang dapat memisahkan diri dari pemerintah, komersial, dan tekanan lainnya, tetapi hal ini sangat tepat sebagai institusi yang sulit mendapatkannya. Penyiaran publik, walaupun instutusi nonprofit seringkali kurang sukses daripada jejaring televisi komersial dalam bertahan melawan tekanan dari pemerintah, atau dari bisnis dan para pemimpin “madani” yang duduk dalam jajaran penentu keputusan.

Bagi Marcuse, budaya populer adalah berbahaya tidak hanya kepada penggunanya, tetapi juga sebab ia “mencandui” mereka untuk menerima status quo politik.

Sumber-sumber dan Bias-bias Kritik Budaya Massa

Ketika membandingkan pengaruh empiris dengan lainnya, kritik budaya massa tidak berdiri tegak dengan baik. Tidak hanya kesamaannya dalam bagaimana budaya populer dan budaya tinggi diciptakan, tetapi sikap sebelumnya tanpa sejati yang mengarah ke budaya tinggi atau penciptanya. Terlebih lagi, budaya populer mengandung tidak hanya pengaruh, kecuali mungkin terhadap orang-orang minoritas yang mengkonsumsinya. Sebab ada kesenjangan dalam kesluruhan efek, hal ini tak dapat dipertimbangkan sebagai suatu sumber bahaya kepada masyarakat atau kepada bentuk demokratis dari pemerintah.

Konsekuansinya, kritik adalah suatu pernyatan secara luas atas estetika yang tak memuaskan dengan isi budaya populer, disesuaikan dengan perkiraan yang salah dari efek negatif dan berdasarkan pada suatu konsepsi yang keliru dari kegunaan dan fungsi budaya populer.

Referensi

Gans, Herbert J. Popular Culture and High Culture: An Analysis and Evaluation of Taste. New York: Basic Books, Inc. Publishers.

Februari 19, 2010 - Posted by | Sosiologi Komunikasi

3 Komentar »

  1. mav, mengganggu sebelumnya..
    saya mahasiswi di slh satu universitas swasta d jakarta , saya sedang membuat skripsi uantuk mengenai komunikasi antarpribadi antara pengguna media facebook pada mahasiswa PR2008 Universitas XX

    jika seperti itu maka teori konsep2 apa saja yang harus saya masukan ke skripsi?
    saya mohon bantuannya pak ,

    terima kasih
    sukses terus untuk pak Petrus
    salam Jessica

    Komentar oleh jessica | Maret 14, 2011 | Balas

    • Jessica,

      beberapa teori yg bisa dipakai:
      1. Teori dependensi efek media massa.
      2. Teori uses (kegunaan) n gratification (kepuasan)

      Dua teori ini aja dah cukup…

      Moga sukses. Salam. Petrus

      Komentar oleh Petrus Andung | Maret 18, 2011 | Balas

  2. maaf saya mau tanya,
    saya mahasiswi fakultas komunikasi.
    saya sedang skripsi tentang pengaruh budaya populer dalam membentuk paradigma dan gaya.
    menurut anda teori komunikasi yang sesuai apa saja ya?

    mohon bantuan ya pak🙂

    salam ika

    Komentar oleh gha | Agustus 23, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: