Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

Imperialisme Budaya; Sebuah Wacana

Empat cara mendiskusikan tentang Imperialisme Budaya

Secara general, ‘imperialisme’ dan `dominasi’ selalu berisi anggapan-anggapan akan kekuasaan yang negatif, kekuasaan untuk mengendalikan. Namun masalah yang sebenarnya terjadi adalah banyaknya bentuk-bentuk kekuasaan yang ada, kekuasaan yang terlibat dalam Imperialisme Budaya: seperti yang ditanamkan kepada bangsa misalnya, atau oleh kapitalisme, atau proses globalisasi pembangunan atau pada konteks modernitas.

Pendekatan terbaik yang dapat Mc.Quail berikan dalam menguraikan tentang Imperialisme Budaya adalah berpikir dari sudut pandang berbeda yang dapat menjelaskan kemungkinan apapun tentang imperialisme budaya.

Imperialisme Budaya sebagai `Imperialisme Media’

Imperialisme budaya menempatkan media -televisi, radio, jurnalisme, periklanan- diatas segalanya. Namun ada juga timbulnya argument tentang kegunaan media sebenarnya pada masa Imperialisme budayal imperialisme media yang harus kita coba ketahui dari luar. Kita dapat menelusurinya dari bagaimana perbedaan ini dikaji oleh Chi-Chuan Lee.

Lee menyatakan bahwa, hubungan apapun yang timbul antara media dengan aspek-aspek budaya yang ada, ataupun hubungan antara ekonomi, politik dan budaya secara general tidak dapat diasumsikan dalam teori-teori yang ada pada masa media imperialisme. Karena hubungan tersebut memang bisa dilihat dan memang di demonstrasikan berdasarkan pengamatan. Walaupun Lee berusaha untuk menemukan keseimbangan antara pendekatan teori Marxist dan non-Marxist (pluralist), namun secara garis besar isi bukunya seperti menerima pandangan non-Marxist yang menganggap bahwa imperialisme media adalah masa yang dapat hidup dengan sendirinya.

Pendekatan Lee dinilai salah oleh Mc.Quait karena 2 alasan, yaitu: Pertama, walaupun media secara analistis terpisah dari segala aspek budaya, namun dapat terlihat dengan jelas bahwa media dan budaya memiliki koneksi yang sangat dekat dengan berbagai aspek lain yang mengkaji tentang kehidupan manusia. Yang dialami

orang-orang terhadap pengaruh televisi misalnya, seringkali menimbulkan efek mediasi yang bermakna. Pada dasarnya abstraksi yang terdapat dalam budaya secara keseluruhan memiliki problematic yang tinggi. Kedua, adanya ancaman pada pendekatan anti-teoritis yang dikemukakan oleh pluralist bahwa faham-faham kritis pada masa imperialisme media akan hilang. Dari awal Mc.Quail menyatakan bahwa faham `dominasi/penguasaan’ sangat diperlukan dalam melahirkan faham imperialisme: berbicara tentang imperialisme media adalah cara agar kita mengerti konteks awal dari dominasi/penguasaan itu sendiri.

Menurut Mc.Quail sendiri Imperialisme media adalah cara khusus untuk mempersoalkan tentang imperialisme budaya. Bukan hanya sebuah nama agar kita mempelajari media guna pembangunan negara atau untuk market internasional dalam komunikasi. Tetapi didalamnya melibatkan berbagai isu-isu politik yang bersifat kompleks -termasuk juga komitmen potitik- yang mengarahkan kedalam pengertian dominasi budaya. Dari kesimpulan tentang imperialisme media, maka timbullah beberapa pertanyaan.

Isu pertama muncul diluar dari wacana tentang imperialisme media dan hubungannya dengan bentuk dominasi yang ada. Para kritikus imperialisme media seringkali mengkhawatirkan struktur dan aspek-aspek institusional dari media global. Mereka memberi kritik berdasarkan bentuk-bentuk dominasi politik dan ekonomi. Asumsi yang timbul adalah bahwa pengaruh budaya dari luar seperti acara televisi, periklanan, komik dan lainnya terbukti akan menimbulkan efek pada budaya. Wacana tentang imperialisme media melengkapi kita dengan konteks yang dianggap sebagai masalah general sebenarnya dalam dominasi budaya.

Isu lainnya adalah tentang imperialisme budaya sebagai pusat dari media. Di satu pihak, jelas terlihat media massa berkembang secara cepat dan konstan, melaporkan dan menyuguhkan baik kehidupan pribadi maupun kehidupan publik di barat. Adanya hat ini menggugah kita untuk melihat media sebagai pusat orientasi budaya bagi modern kapitalisme barat. Apabila begitu, maka imperialisme budaya dapat dilihat sebagai pusat dari media dengan 2 cara yaitu: baik dengan mendominasi 1 media budaya (text, practices) lebih dari yang lainnya, maupun dengan penyebaran budaya media massa secara global.

Imperialisme budaya sebagai wacana bangsa

Jika media dijadikan pokok bahasan dalam membahas imperiatisme budaya, maka ide-ide tentang pelanggaran terhadap budaya-budaya lokal yang dilakukan pendatang merupakan cara yang dianggap awani untuk meng-artikulasi proses yang terlibat di dalamnya.

Arti dari “indigenous (ash)” sendiri merupakan sinonim dari “native (lokal)”, yang artinya kepunyaan dari sebuah area geografis tertentu. Namun bagaimana mungkin budaya “dimiliki” oleh sebuah area? yang dapat di tambahkan dari “indigenous” ini adalah rasa yang dimiliki secara natural, dengan ini mungkin akan menjawab secara pendek pertanyaan kita tentang bagaimana sebuah budaya dapat dimiliki, walaupun di dalamnya banyak memuat masalah-masalah teoretikal. Dengan begitu, kita dapat mengambil apapun tentang budaya, yang merupakan atau bukan merupakan sebuah fenomena. Budaya secara keseluruhan merupakan hasil pekerjaan dari manusia.

Imperialisme budaya sebagai kritikan terhadap kapitalisme global

Neo-marxist menganggap bahwa proses imperialisme budaya memiliki peran fungsional dalam menyebarkan kapitalisme sebagai suatu system ekonomi dan aturan hubungan antar golongan. Dalam kasus ini argument terbentuk menjadi sebuah asumsi awal yang menganggap bahwa nilai-nilai budaya yang ditawarkan kapitalis barat hampir seperti sebuah perhiasan yang ditawarkan pada Dunia Ketiga sebagai imbalan atas kerja keras mereka.

Marx melihat kapitalisme lebih dari sebuah bentuk produksi. Kapitalisme meliputi totalitas budaya terhadap ekonomi secara tekhnis, politik, relasi social, pengalaman dan momentum-momentum simbolis.

Imperialisme budaya sebagai kritikan terhadap modernitas

Efek yang ditimbulkan oleh imperialisme budaya tidak hanya terjadi pada budaya individu saja, tetapi juga pada dunia. Inilah yang dapat kita sebut dengan wacana kritikan terhadap modernitas. Modernitas itu sendiri, seperti kita ketahui merupakan tujuan utama budaya yang mengarah kepada pembangunan secara global. Yang menjadi kritikan utama pada wacana ini adalah bagaimana cara merespon terhadap kebingungan/ ketidak pastian kondisi budaya yang diakibatkan oleh modernitas.

Februari 19, 2010 - Posted by | Komunikasi Antar Budaya

1 Komentar »

  1. saya boleh pinjam buat tambahan tugas gk?🙂
    terimakasih

    Komentar oleh yusma | Oktober 27, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: