Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

Teori Negosiasi Identitas

By: Petrus A. Andung

Ting-Toomey (1999 : 39) menegaskan, teori negosiasi identitas menekankan bahwa identitas atau konsepsi diri refleksif dipandang sebagai mekanisme eksplanatori bagi proses komunikasi antarbudaya. Identitas dipandang sebagai citra diri reflektif yang dikonstruksi, dialami, dan dikomunikasikan oleh para individu dalam satu budaya dan dalam satu situasi interaksi tertentu.

Konsep negosiasi didefinisikan sebagai proses interaksi transaksional di mana para individu dalam satu situasi antarbudaya mencoba memaksakan, mendefinisikan, mengubah, menantang, dan/atau mendukung citra diri yang diinginkan pada mereka atau orang lain. Negosiasi identitas merupakan aktivitas komunikasi.
Beberapa individu bersikap mindless dalam menghadapi negosiasi identitas, sedangkan individu lain bersikap mindful menghadapi dinamika proses ini. Mindfulness ini merupakan satu proses “pemfokusan kognitif” yang dipelajari melalui latihan-latihan keterampilan yang dilakukan berulang-ulang (Ting-Toomey, 1999 : 40).

Menurut Ting-Toomey (1999 : 40 – 45), ada 10 asumsi teoritis inti dari teori negosiasi identitas:

1). Dinamika utama dari identitas keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok dan identitas pribadi terbentuk melalaui komunikasi simbolik dengan orang lainnya.

2). Orang-orang dalam semua budaya atau kelompok etnis memiliki kebutuhan dasar akan motivasi untuk memperoleh kenyamanan identitas, kepercayaan, keterlibatan, koneksi dan stabilitas baik level identitas berdasarkan individu maupun kelompok.

3). Setiap orang akan cenderung mengalami kenyamanan identitas dalam suatu lingkungan budaya yang familiar baginya dan sebaliknya akan mengalami identitas yang rentan dalam suatu lingkungan yang baru.

4). Setiap orang cenderung merasakan kepercayaan identitas ketika berkomunikasi dengan orang lain yang budayanya sama atau hampir sama dan sebaliknya kegoyahan identitas manakala berkomunikasi mengenai tema-tema yang terikat oleh regulasi budaya yang berbeda darinya.

5). Seseorang akan cenderung merasa menjadi bagian dari kelompok bila identitas keanggotaan dari kelompok yang diharapkan memberi respon yang positif. Sebaliknya akan merasa berbeda/asing saat identitas keanggotaan kelompok yang diinginkan memberi respon yang negatif.

6). Seseorang akan mengharapkan koneksi antarpribadi melalui kedekatan relasi yang meaningful (misalnya dalam situasi yang mendukung persahabatan yang akrab) dan sebaliknya akan mengalami otonomi identitas saat mereka menghadapi relasi yang separatis/terpisah.

7). Orang akan memperoleh kestabilan identitas dalam situasi budaya yang dapat diprediksi dan akan menemukan perubahan identitas atau goncang dalam situasi-situasi budaya yang tidak diprediksi sebelumnya.

8). Dimensi budaya, personal dan keragaman situasi mempengaruhi makna, interpretasi, dan penilaian terhadap tema-tema atau isu-isu identitas tersebut.

9). Kepuasan hasil dari negosiasi identitas meliputi rasa dimengerti, dihargai dan didukung.

10). Komunikasi antarbudaya yang mindful menekankan pentingnya pengintegrasian pengetahuan antarbudaya, motivasi, dan ketrampilan untuk dapat berkomunikasi dengan memuaskan, tepat, dan efektif.

 

Ting-Toomey berpendapat, salah satu kompetensi dalam komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi identitas yang efektif di antara dua orang atau lebih yang terlibat dalam komunikasi.  Apalagi, dalam berkomunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda, maka keahlian untuk menegosiasi identitas menjadi penting demi tujuan kesepemahaman.

Lebih lanjut Ting-Toomey (1999 : 45 – 47) menjelaskan tentang komunikasi antarbudaya yang mindful. Mindfulness  berarti kesiapan  untuk menggeser kerangka referensi, motivasi untuk menggunakan kategori-kategori baru untuk memahami perbedaan-perbedaan budaya atau etnis, dan kesiapan untuk bereksperimen dengan kesempatan-kesempatan kreatif dari pembuatan keputusan dan pemecahan masalah. Sebaliknya mindlessness adalah ketergantungan yang amat besar pada kerangka referensi yang familiar, kategori dan desain yang rutin dan cara-cara melakukan segala hal yang telah menjadi kebiasaan. Untuk menjadi komunikator yang mindful, individu mesti mempelajari sistem nilai yang mempengaruhi konsepsi diri orang lain. Ia perlu membuka diri terhadap satu cara baru konstruksi identitas. Ia juga perlu siap untuk memahami satu perilaku atau masalah dari sudut pandang budaya orang lain. Ia juga mesti waspada bahwa banyak perspektif hadir dalam upaya interpretasi satu fenomena dasar.

Kriteria komunikasi yang mindful (Ting-Toomey, 1999 : 48 – 49) adalah:

  • Kecocokan: ukuran di mana perilaku dianggap cocok dan sesuai dengan yang diharapkan oleh budaya.
  • Keefektifan: ukuran di mana komunikator mencapai shared meaning dan hasil yang diinginkan dalam satu situasi tertentu.

Sementara komponen komunikasi yang mindful meliputi pengetahuan, motivasi, dan ketrampilan. Pengetahuan dalam pemahaman Ting-Toomey merupakan pemahaman kognitif yang dimiliki seseorang dalam rangka berkomunikasi secara tepat dan efektif dalam satu situasi tertentu. Sementara motivasi adalah  kesiapan kognitif dan afektif serta keinginan untuk berkomunikasi secara tepat dan efektif dengan orang lain. Sedangkan keterampilan didefinisikan sebagai kemampuan operasional sebenarnya untuk menampilkan perilaku-perilaku yang dianggap sesuai dan efektif dalam situasi tertentu (Ting-Toomey, 1999 : 50 – 54).

Mei 5, 2012 - Posted by | Komunikasi Antar Budaya

8 Komentar »

  1. salam kenal saudara q, saya mau tanya nech, bisa nda mas petrus jelaskan hubungan antara komunikasi dan kebudayaan dalam proses komunikasi antarbudaya

    Komentar oleh ali imron | Maret 27, 2013 | Balas

    • Hi Ali Imron…

      Thanks for visiting my blog.
      Saya sudah membuat artikel baru tentang hubungan antara komunikasi dan kebudayaan.
      Moga bermanfaat.

      Komentar oleh Petrus Andung | April 1, 2013 | Balas

  2. maaf pak kalau boleh saya tau buku ting toomey ini ada yang versi bahasa indonesianya kah ???
    mohon referensinya kebetulan saya sedang penelitian identitas etnis dalam komunikasi antar budaya. tks

    Komentar oleh rofi | Mei 31, 2013 | Balas

    • Hi Rofi… Bukunya Stella Ting-Toomey belum ada versi Bahasa Indonesia. Yang ada di saya juga versi English

      Komentar oleh Petrus Andung | Februari 27, 2014 | Balas

  3. bisa dijelaskan tidak contoh dan aplikasi dari asumsi no 6 ^^.thanks

    Komentar oleh ♕ A N N A ♕ (@annAddicts) | Juli 16, 2013 | Balas

  4. salam pak, bolehkan saya tahu referensi untuk buku teori identias ini? terima kasih

    Komentar oleh nita | Februari 25, 2014 | Balas

    • Ting-Toomey, Stella., Communicating Across Cultures, The Guilford Press, Newyork, 1999.

      Komentar oleh Petrus Andung | Februari 27, 2014 | Balas

    • Hi Nita,
      Referensi Teori Neg Identitas: Ting-Toomey, Stella., Communicating Across Cultures, The Guilford Press, Newyork, 1999.

      Komentar oleh Petrus Andung | Februari 27, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: