Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

Artikel Penting

Perspektif Sosial Budaya Masyarakat Penganut Kepercayaan Halaika di Desa Boti
Oleh: Petrus A. Andung

Samovar dan Porter (dalam Mulyana dan Rahmat, 1993, Hal. 28) menyebut aspek-aspek utama sosial budaya masyarakat yakni: sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude), pandangan dunia (world view), dan organisasi sosial (social organization).

1. Sistem Kepercayaan (Belief)
Masyarakat suku Boti Dalam, seluruhnya menganut kepercayaan halaika; sebuah agama tradisional yang dianut turun-temurun sejak nenek moyang mereka, Atoni Meto berada. Tradisi halaika mengajarkan penganutnya untuk menyembah Uis neno dan Uis pah. Uis neno, diyakini sebagai dewa langit, sedangkan Uis pah adalah sebagai dewa bumi yang dapat berupa fatu hau (batu dan kayu).
Seluruh penganut halaika mempercayai Uis neno sebagai pelindung mereka. Karena itulah, ia diasumsikan dengan bapak yang mengayomi anak-anaknya. Perannya sebagai bapak terwujud dalam menurunkan air hujan ke bumi. Sementara Uis pah diibaratkan sebagai sang ibu. Uis pah-lah yang dianggap memberi makan dan membesarkan manusia (laif kit man hau kit).
Karena Uis neno dan Uis pah ini sebagai bapak dan ibu maka warga Boti Dalam menyembah mereka sebagai tuhan. Wujud penyembahan warga terlihat melalui ketaatan akan ketentuan-ketentuan yang diyakini merupakan perintah dan larangan dewa langit dan dewa bumi. Salah satu ketentuan mendasar yakni mengharuskan pengikut halaika khususnya laki-laki dewasa untuk tidak memotong/mencukur rambut. Mereka diwajibkan mengikat rambut atau berkonde bila sudah menginjak usia 20 tahun ke atas.
Setiap pria dewasa diharuskan mengikat rambut dengan membuat ikatan di bagian atas kepala (konde). Pada bagian ikatan dipasang tusuk konde (soit) yang terbuat dari bambu, tulang sapi atau tanduk. Fungsinya adalah untuk menahan ikatan rambut dan juga digunakan sebagai sisir.
Warga suku Boti Dalam, sangat menjunjung tinggi berbagai aturan dan perintah yang dipercayai sebagai penganut halaika. Pada setiap hari kesembilan, semua penganut halaika diharuskan untuk berkumpul di balai pertemuan untuk melakukan pertemuan (eku tefas). Warga menyebutnya sebagai hari perhentian karena hari tersebut dianggap kurang baik (neon leuf). Karena itu, mereka hanya diperbolehkan untuk berkumpul (neon tokos) mendengarkan nasehat sang raja. Setiap hari kesembilan tersebut, warga dilarang melakukan aktifitas di kebun, beternak, bahkan tidak diijinkan makan dan minum. Semua warga akan melakukan puasa (tidak makan dan minum) dari pukul 08.00 hingga 17.00.
Saat berkumpul, warga hanya akan mendengarkan petuah sang usif selama seharian penuh tanpa istirahat. Usif akan memberi nasehat dan mengingatkan pengikutnya untuk menjadi penganut halaika yang rendah hati, beretika, bekerja keras, dan tidak melakukan kejahatan. Semua warga akan terlihat serius mendengar-kan wejangan raja sambil melakukan aktifitas ringan di dalam balai pertemuan sepeerti menenun dan memintal benang bagi kaum perempuan Boti Dalam. Sementara para pria akan membuat kerajinan tangan khas boti. Sudah tentu, setiap neon tokos, warga pasti membawa kerjaan mereka masing-masing untuk diselesaikan saat eku tefas. Warga yang tidak memiliki kerjaan saat itu, dengan sendirinya akan membantu temannya yang lain.
Heka Neolaka mengatakan, ”bi neno sio lek na, neon leuf ai neno snasat. Bi lek’ neno lek’ na atoin halaika na bua bi bale eku tefas henati na peni, kibit ma palenat na ko’ usif” (hari kesembilan adalah hari perhentian. Hari itu dikhususkan buat Uis pah dan Uis neno. Semua orang halaika harus berkumpul di balai melakukan eku tefas untuk mendengar-kan nasehat raja).

2. Nilai-Nilai (Values)
Nilai-nilai budaya yang melekat kuat dalam kehidupan keseharian warga suku Boti Dalam, erat kaitannya dengan agama tradisional mereka, halaika. Tradisi halaika mengagungkan 4 nilai-nilai dasar yang biasanya disebut dengan ha’ kae (empat larangan) sebagai acuan atau rujukan dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat larangan tersebut antara lain:
1). Warga halaika dilarang mencuri (kaes mu bak).
2). Warga halaika dilarang berzinah dan merampas isteri orang lain (kais mam paisa).
3). Warga halaika dilarang meminum minuman keras/beralkohol (kaes teun tua).
4). Warga halaika dilarang memetik bijol atau biola tradisional khas orang Timor (kaes heot heo), memetik buah kusambi (kaes hupu sapi), dan memotong bambu (kaes oet o’) bila waktu untuk memanen belum tiba.
Perwujudan dari nilai-nilai halaika dalam kehidupan mereka, nampak dalam semboyan mereka lais manekat; yang artinya mengasihi sesama manusia. Bentuk kasih mereka diungkapkan dengan menjaga perbuatan dan tindakan agar tidak menyinggung dan melukai hati orang lain. Adapun nilai-nilai yang dianggap baik bagi kaum halaika adalah menjadi penganut halaika yang baik. Ciri-ciri dari seorang penganut halaika yang baik, dan taat adalah:
1). Berkonde bagi pria dewasa dan menyanggul rambut bagi kaum perempuan.
2). Memakai soit pada setiap ikatan rambut yang disanggul/dikonde.
3). Semua pria dewasa memakai selimut berlapis. Lapisan pertama disebut mau pinaf (selendang pembungkus bagian dalam) dan lapisan kedua sebagai selendang luar (mau fafof). Pada kaum perempuan, mengenakan sarung juga dengan dua lapis: lapisan pertama adalah sarung tenunan (tais), dan lapisan kedua berupa selendang kain (lipa).
4). Selalu membawa saku sirih pinang (alu’ mama untuk laki-laki; oko’ sloi untuk perempuan) ke mana pun bepergian.
5). Menaati pantangan-pantangan atau larangan sebagai penganut halaika.
6). Tidak menggunakan alas kaki.
7). Berbicara dengan sangat sopan. Selalu menghargai orang lain sebagai yang mulia dan patut dihormati.
8). Harus bisa menenun bagi setiap perempuan dewasa.
9). Khusus perempuan, tidak diijinkan menatap muka lawan jenisnya secara langsung saat berkomunikasi.

3. Sikap (Attitude)
Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa semua warga boti sangat sangat setia dengan apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh raja mereka. Karena itu, mereka akan selalu menunjukkan sikap dan tindakan yang patuh, taat, dan setia terhadap berbagai ajaran sang raja. Apapun yang menjadi titah raja, pasti diikuti dan dijalankan tanpa membantah.
Sikap dan perilaku yang ditunjukkan sangat berkaitan erat dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang diajarkan halaika. Salah satu perilaku yang menjadi ciri khas warga Boti Dalam terlihat melalui pemaknaan kais mu bak (jangan mencuri). Setiap warga sudah menyadari larangan tersebut sebagai salah satu perilaku yang harus dihindari seorang halaika. Menurut sang raja Boti (Usif Namah Benu), ”jarang ada warga halaika yang mencuri makanan ataupun ternak milik sesama baik di lingkungan sonaf (istana) maupun di Boti luar”.
Bila ada pencuri dan tertangkap basah di kebun ataupun di kandang ternak milik salah satu warga Boti Dalam, maka yang bersangkutan akan dilaporkan ke raja. Sang raja selanjutnya akan memerintahkan seseorang untuk memberitahu semua pemimpin wilayah (lopo) agar berkumpul pada hari yang telah ditentukan oleh raja. Melalui para lopo mereka akan dikoordinasikan untuk membawa sebatang pohon anakan pisang setiap orang guna ditanam secara serentak di kebun milik pencuri tersebut. Semua warga Boti Dalam juga akan membuatkan pagar di sekeliling kebun si pencuri tersebut agar tanaman yang telah ditanam tersebut aman dari gangguan hewan.
Warga Boti Dalam tidak akan menuntut ganti rugi secara material atas kecurian ataupun akibat masuknya ternak ke kebun milik mereka. Malah sebaliknya, mereka sudah diajarkan untuk memberi mereka barang, tanaman atau ternak yang telah diambil. Hal ini dilakukan dengan asumsi, mereka melakukannya (mencuri) karena tidak memiliki barang, tanaman ataupun ternak sehingga perlu dibantu agar sama-sama mempunyai.
Tujuan dari pemberian ternak ataupun penanaman tanaman yang dicuri, agar menimbulkan efek jerah bagi pencuri tersebut. Selain itu, juga guna mendidik dia akan pentingnya berusaha dan bekerja keras dari hasil keringat sendiri. Tindakan menyerbu rumah pencuri dengan menanam tanaman ataupun membuat kandang ternak hingga menyerahkan hewan piaraan juga sebagai bukti bahwa mereka mengasihi si pencuri dan tidak menaruh dendam apalagi mendakwanya.
4. Pandangan Dunia (World View)
Pandangan dunia orang-orang Boti Dalam, sangat dipengaruhi oleh kepercayaan mereka akan alam semesta sebagai tuhan yang harus dihormati, disanjung dan dipuja. Manusia harus bersahabat dengan alam karena alamlah yang menyediakan makanan dan minuman. Karenanya, pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan, makanan tidak boleh dipanen sebelum waktunya, bahkan rambut mereka pun tidak boleh dicukur. Mereka juga tanpa alas kaki dan bercelana panjang. Piring, sendok, dan gelas yang mereka pakai pun terbuat dari tempurung kelapa.
Dari alam dan kembali ke alam mempunyai makna yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat. Alam dan seisinya (bumi) disembah sebagai tuhan yang juga turut memberi kehidupan. Sebab itu, keseimbangan alam harus dijaga dengan baik dan ketat. Bila terjadi masalah-masalah yang beraitan dengan alam seperti kamarau berkepanjangan, warga Boti Dalam akan berupaya untuk menggelar upacara pemujaan. Korban baik makanan maupun ternak dipersembahkan di hutan Fain Mete guna melangsungkan upacara ritual dengan harapan hujan bisa turun secara teratur.
Dalam berinteraksi dengan orang luar seperti wisatawan ataupun pihak luar lainnya yang datang ke desa, warga sangat selektif terhadap berbagai pengaruh. Walaupun sedikit tertutup mengungkap misteri kehidupannya, namun tidak menutup diri terhadap interaksi dengan dunia luar. Warga tetap terbuka dalam bergaul dengan pihak luar, sepanjang tidak bertentangan dengan keyakinan dan adat-istiadat.

5. Organisasi Sosial (Social Organization)
Terdapat beberapa organisasi sosial yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat suku Boti Dalam. Di antaranya adalah keluarga, organisasi adat, dan organisasi pemerintahan desa. Keberadaan keluarga dalam kehidupan masyarakat Boti sangat berperanan penting. Banu Misa mengatakan, ”amaf (bapak) dan ena (ibu) merupakan uis neno (tuhan) yang pertama. Merekalah yang mengajarkan kita hal-hal yang baik dan buruk, memelihara dan melindungi kita”.
Seluruh tata cara berkenaan dengan halaika sudah ditanamkan secara dini kepada anak-anak halaika dalam keluarga. Hal-hal yang dianggap sebagai larangan dan perintah atas konsekuensi keyakinan mereka tersebut telah diketahui oleh setiap anak-anak sejak kecil. Mereka diajarkan untuk mentaati pantangan bagi seorang halaika dan tata krama dalam bergaul. Bahkan setiap neon leuf (hari kesembilan) anak-anak halaika tidak akan berjalan ke luar rumah secara sembarangan kecuali bermain di dalam rumah atau mengikuti orang tua mereka untuk eku tefas.
Selain keluarga, organisasi adat merupakan organisasi yang juga sangat disegani oleh masyarakat melebihi organisasi-organisasi lain yang terdapat dalam lingkungan mereka seperti organisasi pemerintahan dan non pemerintahan. Usif sebagai kepala suku juga sekaligus berperan menjadi pemimpin adat. Berbagai kegiatan yang terjadi dalam lingkungan masyarakatnya haruslah sepengetahuan sang raja. Rajalah yang berperan mengatur berbagai aspek kehidupan warga mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian.
Sang usif mempunyai tanggung jawab sosial dan moril bagi kesejahteraan dan kebaikan warganya. Karena itulah, usif tidak akan segan-segan mengintervensi kehidupan warganya bila sedang dirundung masalah. Semuanya dilakukan dengan alasan kebaikan dan ketenteraman warganya.
Untuk melancarkan tugas dan perannya, usif dibantu oleh prajuritnya (meo). Tugas meo adalah mengamankan wilayah/lingkungan kerajaan dan desa Boti secara keseluruhan dari berbagai bahaya yang mengancam, utamanya serangan musuh dari luar. Para meo ditempatkan di setiap perbatasan kerajaan. Pada wilayah timur, ditempatkan meo feto (prajurit tingkat rendah) yang dikepalai oleh Bernadus Benu dan meo mone (prajurit tinggi) oleh Bota Benu. Wilayah barat, dengan moe feto, Haki Benu dan Oni Benu, dan meo mone, Bota Benu. Tugas lain dari para meo adalah mengamankan perintah raja dan sebagai tangan kanan raja. Bila ada kegiatan-kegiatan di lingkungan kerajaan yang berhubungan dengan pihak luar, maka akan dikoordinir oleh para meo.
Selain meo, terdapat pula lopo-lopo sebagai pembantu wilayah yang secara administratif dianggap sebagai pembantu ketua RT. Mereka akan bertindak sebagai pelaksana aturan kerajaan di tingkat wilayah. Dengan demikian, bila terjadi masalah-masalah di tingkat wilayah, maka para lopo akan berkoordinasi dengan usif untuk segera melakukan berbagai tindakan yang diperlukan.
Pada lingkungan sonaf terdapat pula para pelayan kerajaan. Mereka terdiri dari marga-marga Neolaka, Tefamnasi dan Boentekan. Tugasnya adalah menyediakan dan mengatur persediaan makanan serta minuman di istana. Mereka pula yang mengurus dan menjaga kebun dan ternak sang raja.
Marga-marga yang lainnya yakni Tefu, Nabu, Neolaka, Asbila, Hektekan, Tefamnasi, Kaunabu, Natonis, Liunesi, dan Tanesib merupakan masyarakat biasa (toh) atau lazim pula disebut sebagai anak-anak (anah) dari sang usif. Mereka sepenuhnya diatur oleh raja.

Selain organisasi adat, organisasi pemerintahan juga berperan dalam kehidupan masyarakat Boti Dalam. Peran ini nampak tidak saja dalam acara-acara yang bernuansa program pemerintahan dan pembangunan desa namun juga saat upacara perkawinan warga Boti Dalam. Biasanya dalam acara perkawinan khususnya puam mnasi manum mnasi, pemerintah desa diminta sebagai saksi perkawinan.
Hubungan antara pemerintahan desa dan adat saling bahu-membahu mengatur warga. Dalam kaitan dengan masalah-masalah sosial budaya pemerintah selalu melibatkan organisasi adat. Begitu pula dalam pelaksanaan program pemerintah di lingkungan Boti Dalam, senantiasa berkoordinasi dengan sang Raja. Sebagai pemimpin informal, warga lebih segan terhadap sosok Raja ketimbang pemerintah desa.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Masyarakat adat Boti Dalam merupakan salah satu komunitas tradisional yang masih asli dan mempertahankan tradisi budaya mereka secara turun-temurun.
2. Dari aspek kepercayaan (belief), masyarakat adat Boti Dalam masih menyembah uis neno sebagai tuhan langit (umumnya disebut sebagai dewa langit) dan uis pah (dewa bumi). Karena itu komunitas ini memiliki hubungan dan ikatan yang cukup kuat dengan alam dan langit.
3. Aktualisasi dari keyakinan halaika ini, masyarakat adat Boti Dalam memiliki seperangkat nilai (values) yakni berkaitan dengan apa yang baik dan tidak baik. Nilai-nilai ini dijadikan dasar atau norma-norma moral dalam setiap sikap dan tingkah laku anggota masyarakat. Pelanggaran terhadap aturan-aturan ini berimplikasi pada pemberian sanksi adat.
4. Warga Boti Dalam sangat setia dengan apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh raja mereka. Karena itu, mereka akan selalu menunjukkan sikap dan tindakan yang patuh, taat, dan setia terhadap berbagai ajaran sang raja. Apapun yang menjadi titah raja, pasti diikuti dan dijalankan tanpa membantah. Sikap dan perilaku yang ditunjukkan sangat berkaitan erat dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang diajarkan halaika
5. Pandangan dunia orang-orang Boti Dalam, sangat dipengaruhi oleh kepercayaan mereka akan alam semesta sebagai tuhan yang harus dihormati, disanjung dan dipuja. Komunitas ini berpandangan bahwa manusia harus bersahabat dengan alam karena alamlah yang menyediakan makanan dan minuman.
6. Organisasi adat merupakan institusi lokal yang sangat disegani oleh masyarakat adat Boti Dalam melebihi organisasi-organisasi lain yang terdapat dalam lingkungan mereka seperti organisasi pemerintahan dan non pemerintahan.

Rekomendasi
Rekomendasi yang ditawarkan berkenaan dengan hasil penelitian ini antara lain:
1. Adanya gejolak perubahan secara global tentunya berimbas pada keutuhan suatu komunitas baik dari segi tradisi adat ataupun lainnya. Karena itu disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan guna melihat sejauhmana ketahanan sosial budaya yang dibangun oleh masyarakat adat Boti Dalam.
2. Apa yang ditunjukkan dari rutinitas keseharian masyarakat adat Boti Dalam merepresentasikan betapa komunitas ini kaya akan pelbagai kearifan lokal (local wisdom). Untuk itu disarankan kepada pemerintah (Propinsi NTT dan Kabupaten TTS) untuk memupuk kearifan-kearifan lokal mereka sebagai aset budaya bangsa.
3. Kepada pihak LSM yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan advokasi masyarakat disarankan agar melakukan pendampingan di lokasi Boti Dalam guna meningkatkan akses dan kontrol masyarakat adat terhadap berbagai sumberdaya yang ada termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian mereka diharapkan memiliki bargaining position (posisi tawar) yang baik di tengah lingkungan mereka yang semakin hari semakin kompetitif.

KEPUSTAKAAN
Benu, Samuel D. H. M. 2002. Faktor-Faktor Pendukung Kerukunan Hidup Antar Penganut Agama Tradisional dan Penganut Agama Kristen di Desa Boti Kecamatan Ki’e Kabupaten Timor Tengah Selatan (Suatu Tinjauan Sosiologi). Skripsi. Kupang: Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana.
Hadikusuma, H. Hilman. 1986. Antropologi Hukum Indonesia. Bandung : P.T. Alumni.
Koentjaraningrat, dkk. 1993. Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nope, Hotlif A. 2002. Sinkretisme Antara Nilai-Nilai Aliran Kepercayaan dan Nilai-Nilai Keagamaan (Suatu Studi Sinkretisme antara Nilai-nilai Kepercayaan dan Agama Kristen di Desa Boti Kecamatan Ki’e Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi NTT). Skripsi. Yogyakarta: Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada.
Rumung, Wens John. 1998. Misteri Kehidupan Suku Boti. Kupang: Karya Guna.
Spradley, James. P. 1997. Metode Etnografi. Pengantar: Amri Marzali. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Samovar dan Porter dalam Mulyana dan Rahmat, Komunikasi Antar Budaya, 1993.
Zakaria, R. Yando. 2004. “Gerakan Masyarakat Adat: Menguat dalam Wacana dan Aksi, Melemah dalam Konstitusi”. http://www.aman.or.id/ina/Menguat%20 dalam%20Wacana%20dan%20Aksi,%20Melemah%20 dalam%20Konstitusi%20-%20RYZ.doc
http://www.ilo.org/ilolex/cgi-lex/convde.pl?C169 dalam artikel C169 Indigenous and Tribal Peoples Convention, 1989
http://www.katcenter.info/detail_artikel.php?id_ar=19, edisi 12 Februari 2004
http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_read.htm?id=28422&tp=teropong, edisi 19 Juli 2005, dalam artikel TEROPONG Jati Diri dari Puncak Bukit.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/18/daerah/ista25.htm, edisi 18 Agustus 2001, dalam artikel Istana Boti Tak Pernah Sepi.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/11/utama/2121014.htm/Edisi Selasa, 11 Oktober 2005, dalam Artikel berjudul Kampung Boti nan Sakti.

2 Komentar »

  1. terima kasih pak petrus atas kesediaan berbagi informasi tentang suku boti. sangat berguna bagi saya yang tinggal jauh dari tempat tersebut dan memuaskan rasa ingin tahu saya terhadap kebersahajaannya. salam kenal

    Komentar oleh thomas satriya | Desember 13, 2010 | Balas

  2. k

    Komentar oleh Derson Djawa, S.Sos | September 8, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: