Blog Akademik Petrus Andung

Memberdayakan Informasi Akademik demi Memahasiswakan Mahasiswa

Persepsi dalam Komunikasi Antar Pribadi

MEMAHAMI PERSEPSI

Persepsi adalah suatu proses yang mana kita menjadi sadar atau mengetahui suatu objek, peristiwa, dan khususnya seseorang melalui penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan, dan mendengar. Hasil dari persepsi berasal dari kejadian-kejadian di luar kita dan dari pengalaman kita, kebutuhan,keinginan, cinta dan kebencian.Persepsi sangatlah berpengaruh dalam komunikasi interpersonal kita terhadap orang lain. Persepsi interpersonal adalah proses yang berkelanjutan yang ada dan masuk pada dari satu orang kepada orang lainnya.

Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibat kegagalan komunikasi.

Ada tingkatan-tingkatan/tahapan  yang ada dalam persepsi interpersonal yakni:

Tahap Pertama: Perangsangan

Dalam tingkatan ini, panca indera kita akan dirangsang. Kita tidak merasakan apapun, melainkan, kita terlibat dalam selective perception , istilah dasar yang meliputi selective attention dan selective exposure. Dalam selective attention, kita memperhatikan sesuatu yang bagi kita akan memenuhi kebutuhan kita atau dapat menyenangkan kita. Contoh, ketika kita melamun di kelas kita tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pengajarkatakan , sampai nama kita dipanggil. Mekanisme selective attention kita memfokuskan panca indera pada nama kita.

Melalui selective exposure , kita meng-ekspose diri kita kepada orang atau pesan yang akan menegaskan tentang kepercayan kita atau pandangan kita. Contoh, setelah kita membeli mobil, kamu akan lebih suka untuk membaca dan mendengarkan iklan mobil yang telah dibeli, karena hal itu membuat kita yakin, bahwa kita melakukan hal yang benar.

Tahap kedua: Pengaturan (organisasi)

Dalam tingkatan ini, kita mengatur informasi yang ditangkap oleh panca indera kita .

Organization by rules. Biasanya digunakan, karena adanya kedekatan. Dalam suatu kedekatan, atau perkumpulan pasti ada suatu peraturan tersendiri yang hanya digunakan pada kelompok itu, dan yang mengetahui tentang peraturan itu juga hanya anggota dari kelompok itu.

Tahap ketiga: Interpretasi dan evaluasi

Tingkat ini sangatlah dipengaruhi oleh pengalaman , kebutuhan , keinginan . Dan juga akan dipengaruhi oleh peraturan, schemata dan itu juga dipengaruhi oleh gender. Contohnya, pada waktu ada pertemuan dengan pemain sepak bola, dan kita akan memandangnya sebagai seseorang yang kuat, ambisius dan egosentris.

Tahap keempat: Memory

Persepsi kita dan interpretasi-evaluasi mereka ditaruh dalam suatu memori. Mereka akan disimpan.

Tahap lima: Daya ingat

Suatu saat, kita akan menginginkan daya ingat dari informasi-informasi yang sudah disimpan dalam memory

ATRIBUSI

Proses atribusi, usaha untuk mengungkapkan penyebab dari perilaku seseorang, langkah petama kita untuk menentukan faktor eksternal individu atau beberapa individu secara bertanggung jawab.

Konsensus: kesamaan dengan yang lainnya. Ketika kamu menggunakan prinsip konsensus, kamu bertanya, ” apakah orang lain bersikap sama sebagai seseorang yang saya maksud.?” . Yaitu, seseorag yang bertingkah laku menurut konsesnsus, kaum mayoritas? jika jawabannya tidak anda lebih cenderung menyumbangkan tingkah laku ke beberapa faktor internal dan menyimpulkan: “orang ini berbeda.”

Konsistensi, kesamaan atas waktu. Ketika kamu menggunakan [rinsip konsistensi kamu bertanya-tanya apakah orang ini berulang-ulang (konsisten) bersikap sejalan dalam situasi yang sama. Jika jawabannya iya, terdapat kosistensi yang tinggi, perilaku kita aan cenderung dipengaruhi oleh faktorv internal.

Distinctiveness (membedakan), persamaan dalam situasi berbeda.

Ketika kita menggunakan prinsip membedakan, kita bertanya jika orang ini bereaksi serupa dalam situasi berbeda dan jika jawabannya ya, maka proses membedakannya rendah, dan kita mungkin menyimpulkan bahwa ada perilaku yang mempunyai suatu penyebab internal, jika bereaksi dengan cara yang sama dalam situasi yang berbeda, maka hal tersebut akan akan membantu kita untuk menyimpulkan bahwa kita berada dalam situasi tertentu dengan kondisi yang sangat tampak perbedaannya.

Controllability, kendali perilaku

Suatu saat mungkin kita dalam kondisi marah kemudian dapat mengatur emosi dan menerima alasan yang kedua. Dalam hal ini kita merasa bahwa orang lain, terutama dalam mengevaluasi perilaku mereka, kita sering bertanya kepada seseorang untuk bertanggung jawab atas perilakunya.

Umumnya, riset menunjukkan bahwa jika kita merasakan orang-orang bertanggung jawab atas perilaku negatif, kita tidak menyukai mereka. Tetapi kita akan merasa kasihan pada seseorang yang kita rasa tidak berlaku dalam kendali perilaku negatif, dan kita tidak akan menyalahkan orang tersebut untuk hal negatifnya.

Kesalahan atribusi; atribusi hubungan sebab akibat yang dapat mendorong kearah beberapa penghalang.

Self serving bias

Self serving bias adalah suatu mekanisme yang dirancang untuk menjaga harga diri. Kita melakukan sesuatu yang menyimpang ketika kita mendapat pujian karena hal positif dan menyangkal responsibilitas untuk hal negatif. Ada beberapa bukti( meskipun tidak banyak) bahwa kita menjelaskan perilaku ingroup dan outgroup anggota dengan cara yang berbeda, sebagi contoh, kita lebih mungkin untuk menjelaskan perilaku positif anggota ketika]secara internal termotivasi dan bukan perilaku positif anggota ketika secara eksternal termotivasi, maka kita akan lebih cenderung untuk menjelaskan, suatu catatan yang memberikan banyak kontribusi untuk anggota mengenai kultur kita seperti: “mereka adalah orang-orang yang beramal, dan kita yakin bahwa mereka membantu orang lain.”Jika hal ini ditunjukkan untuk menjadi benar untuk anggota tentang kultur lain, kita akan cenderung untuk mengatakan: “mereka adalah orang kaya; mereka memerlukan pengurangan tugas.”

Overattribution

Overattribution adalah kecenderungan untuk memilih satu atau dua karakteristik yang tampak nyata pada seseorang dan menujukan kepada orang semua hal untuk mengerjakan karakteristik ini. Untuk mencegah overattributions, yaitu dengan mengenali bahwa kebanyakan perilaku dan karakteristik kepribadian diakibatkan oleh banyak faktor. Kita hampir selalu membuat sebuah kesalahan ketika kita memilih sebuah penyabab dan segala atribusi untuk hal tesebut. Ketika kita membuat sebuah penilaian, tanyakan pada diri kita jika factor lain dapat berperan di sini.

The fundamental attribution error

Kesalahan attribusi pokok yang terjadi adalah ketika kita memberikan kontribusi nilai yang lebih mengenai faktor internal dan menilai rendah pengaruh dari faktor eksternal. Satu alasan untuk memberi beban yang lebih besar ke faktor eksternal dalam menjelaskan perilaku kita dibandingkan jika kita merusak menjelaskan perilaku dari yang lain adalah bahwa kita mengetahui situasi sekitar, sebagai contoh, apa yang terjadi atas hidup kiat dan kita mengetahui kondisi finacial kita, maka kita secara alami melihat pengaruh yang datang dari faktor ini. Tetapi kita jarang mengetahui bahwa terkadang banyak hal di sekitar kita tidak menghiraukan factor luar yang menjadi penyebab.

Referensi:

Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Desember 17, 2009 - Posted by | Komunikasi Antar Pribadi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: